CILEGON, RADARBANTEN CO.ID – Kabar duka menyelimuti Lingkungan Sambirata, Kelurahan Cibeber, setelah Siti Maryam (48) ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.
Sang suami, Agus Burhanuddin (57), meyakini istrinya adalah korban perampokan berencana yang berujung pada kematian tragis. Dugaan ini menguat seiring terungkapnya fakta-fakta baru yang mencurigakan.
Agus baru mengetahui nasib pilu istrinya sepuluh hari setelah kejadian, tepatnya pada Selasa, 10 Juni 2025. Ia diminta datang ke RSUD Cilegon untuk mengidentifikasi jenazah. Betapa terkejutnya Agus saat mengetahui bahwa sang istri diantar oleh seorang wanita misterius menggunakan ojek online, yang kemudian melarikan diri.
“Saya dikabari kalau istri saya ada di rumah sakit. Saya kira kecelakaan. Tapi waktu saya datang ke RSUD, petugas keamanan bilang istri saya diantar oleh seorang perempuan naik ojek online, lalu perempuan itu kabur,” ungkap Agus.
Rekaman CCTV rumah sakit menjadi petunjuk awal bagi polisi. Dari sana, teridentifikasi dua wanita yang terakhir terlihat bersama korban, salah satunya adalah Eni.
Sosok Eni tak asing bagi Agus. Ia adalah teman istrinya yang diketahui sering meminjam uang.
“Istri saya pernah bilang Eni mau pinjam uang Rp3 juta, tapi belum dibayar. Sekarang malah minta pinjam lagi. Bahkan katanya Eni pernah mau gadaikan mobil ke istri saya tapi ditolak,” beber Agus, menguatkan dugaan adanya motif finansial di balik peristiwa ini. Eni bahkan pernah datang ke rumah mereka dengan membawa buah tangan, seperti air jam-jam dan pisang, menciptakan citra persahabatan yang kini berbalik arah.
Kecurigaan Agus semakin membara saat melihat kondisi jenazah istrinya. Seluruh tubuh Siti Maryam dipenuhi luka lebam. Bahkan, beberapa jarinya nyaris putus, mengindikasikan adanya perlawanan atau perebutan benda berharga.
“Cincinnya empat, dua di tangan kanan, dua di kiri. Gelang dua dan gelang kaki. Semuanya hilang. Selain itu uang tunai Rp20 juta lebih, ATM, dompet, buku tagihan, STNK motor, dan motornya juga hilang,” jelas Agus dengan nada getir.
Agus dengan tegas menampik adanya masalah pribadi atau keluarga yang mungkin melatarbelakangi kejadian ini. Ia yakin, pembunuhan ini murni didasari motif perampokan yang telah direncanakan dengan matang.
“Saya dan istri tidak pernah ribut. Kalau mau arisan atau jalan-jalan saya izinkan. Waktu hari kejadian pun terakhir komunikasi masih jam 13.25 siang lewat video call. Setelah itu, saya coba hubungi lagi, tapi sudah tidak aktif,” tuturnya, menggambarkan komunikasi terakhir yang normal dengan sang istri.
Tidak butuh waktu lama bagi aparat kepolisian untuk meringkus terduga pelaku. Eni ditangkap di kediamannya yang berlokasi di Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Penangkapan ini menjadi titik terang dalam pengungkapan kasus kematian Siti Maryam.
Editor: Aas Arbi











