SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Pertambangan di Kecamatan Bojonegara dan Puloampel memunculkan dampak lingkungan terhadap masyarakat di sekitarnya.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Ikatan Mahasiswa Bojonegara Puloampel (IKMBP), Fahmi Adam.
Fahmi mengaku sangat perihatin dengan kondisi alam di Bojonegara dan Puloampel saat ini. Pasalnya, masifnya aktifitas pertambangan di dua kecamatan tersebut mengakibatkan menghilangnya ruang terbuka hijau.
Bahkan, akibat minimnya daerah resapan air, mengakibatkan wilayah Kecamatan Puloampel diterjang banjir. “Ini bukan yang pertama kali, namun yang kemarin itu bisa dibilang paling besar dampaknya. Banyak masyarakat yang dirugikan, baik dari infrastruktur rumahnya juga transportasi masyarakat juga terganggu,” katanya, Minggu 22 Juni 2025.
Ia mengaku, selain banjir yang dirasakan oleh masyarakat, keberadaan tambang di Puloampel juga memberikan dampak lain bagi masyarakat, mulai dari polusi udara hingga banyaknya kendaraan besar pengangkut material tambang yang melintas di jalan utama.
Kondisi tersebut tentunya menjadi ancaman tersendiri karena warga harus melintas di jalur yang sama dengan kendaraan pengangkut material tambang.
Ditambah lagi, banyak wilayah-wilayah bekas area tambang yang ditinggalkan begitu saja oleh pemilik tambang tanpa adanya revitalisasi. Kondisi tersebut tentunya sangat amat memperihatinkan.
“Pantauan kami ada kurang lebih 30 bekas lokasi tambang galian C yang ditinggalkan begitu saja. Tanpa adanya revitalisasi, penanaman pohon dan lain sebagainya. Mirisnya, ada bekas-bekas jubang tambang yang dibiarkan begitu saja dan akhirnya menelan korban,” ujarnya.
Ia berharap agar bukit-bukit yang saat ini masih tersisa tidak beralih fungsi menjadi areal pertambangan, sehingga nantinya baik wilayah Puloampel maupun Bojonegara masih memiliki wilayah resapan air.
Editor: Abdul Rozak











