LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Komite pengawas keuangan klub Prancis, DNCG, resmi menjatuhkan sanksi degradasi kepada Lyon ke Ligue 2 pada 24 Juni 2025. Meskipun finis di peringkat keenam Ligue 1 musim 2024–25, Lyon dinyatakan tidak memenuhi persyaratan finansial karena utang besar dan arus kas negatif.
Diketahui skala masalah utang klub, Lyon tercatat memiliki utang sekitar 175 juta euro, atau bahkan hingga lebih dari 400–500 juta euro atau sekitar 5 triliun rupiah menurut beberapa laporan. DNCG menuntut jaminan finansial tambahan yang tak mampu dipenuhi oleh Eagle Football Group, pemilik klub.
Mantan klub Karim Benzema ini tidak bisa memperbaiki masalah klub yang terjadi sejak lama. Diketahui manajemen klub sebelumnya, pada November 2024 klub sempat dibekukan pada jendela transfer Januari sebanyak 175 juta euro dana yang dijanjikan oleh John Textor pemilik Lyon melalui penjualan beberapa pemain dan aset grup. Namun, meski ada tambahan dana 80–100 juta euro, itu belum cukup meyakinkan DNCG.
Pada akhirnya upaya banding Lyon ditolak oleh DNCG. Jika banding gagal, posisi mereka akan digantikan oleh Stade de Reims di Ligue 1, dan degradasi menjadi permanen ke Ligue 2 atau Liga 2 Prancis.
Rangkaian faktor yang memicu finansial yakni krisis investasi besar pembangunan stadion, biaya operasional tim putri, default dari TV rights, pemecatan manajemen serta hutang transfer yang belum tertutup .
Degradasi ini memaksa Lyon menjual pemain bintang muda seperti Rayan Cherki, Malick Fofana dan berpotensi Floris Tagliafico atau Alexandre Lacazette untuk menstabilkan keuangan. Bursa transfer mendatang akan sangat krusial.
Sementara itu, John Textor mengecam keputusan tersebut, menyebut upaya finansialnya belum diterima sepenuhnya, dan menuding ada tekanan dari rival di liga. Namun DNCG menegaskan bahwa otorisasi mereka tidak dipengaruhi pihak luar.
Diketahui Lyon, merupakan mantan juara beruntun Ligue 1 (2002–2008), kini Lyon menghadapi salah satu krisis terburuk dalam sejarahnya. Degradasi ini juga berdampak pada status keikutsertaan mereka di Liga Europa, serta hak Crystal Palace atas papan Eropa terkait multi‑club ownership .
Editor: Bayu Mulyana











