SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Alumni SMAN 1 Serang angkatan 2000 genap merayakan reuni perak ke 25 tahun. Acara ini digelar di Pendopo Hotel Aston Serang, Sabtu 28 Juni 2025.
Ratusan alumni berkumpul, mereka datang dari berbagai kota dan latar belakang, membawa cerita hidup masing-masing, dan bertemu melepas rindu.
Selain temu kangen, di reuni perak 25 tahun ini, juga digelar pemilihan Ketua Angkatan 2000 untuk periode 2025–2030. Dan hasilnya terpilihlah Okho Bayu Wantoro, sebagai Ketua Angkatan 2000 alumni SMAN 1 Serang.
Ketua Pelaksana Reuni Perak Alumni SMAN 1 Serang Astried Adhania Raintung mengatakan, reuni Perak ini bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi menjadi ruang temu bagi alumni yang dulu tumbuh bersama, pernah tertawa dan jatuh di lorong-lorong sekolah yang sama.
“Di moment spesial ini kita merayakan 25 tahun sejak kelulusan. Ada yang dulu langsung kerja, kuliah, atau menikah. Tapi semua berangkat dari tempat yang sama: SMAN 1 Serang,” kata Astried.
Ia mengungkapkan, mempersiapkan reuni ini bukan hal mudah. Menyatukan waktu dan energi alumni dari berbagai daerah jadi tantangan utama. “Banyak yang tinggal di luar kota bahkan luar pulau. Tapi alhamdulillah, sekitar 90 orang tetap mendaftar,” ungkapnya.
Ia menyadari bahwa silaturahmi semacam ini penting dijaga. Ia pun berharap para alumni tidak hanya bertemu saat reuni saja, tapi juga bisa bertemu dalam program-program alumni yang bermanfaat lainnya.
Ketua Angkatan 2000 alumni SMAN 1 Serang terpilih Okho Bayu Wantoro menambahkan, yang membuat SMAN 1 Serang begitu berkesan bukan cuma pertemannya, tapi juga guru-guru yang luar biasa.
“Kalau disuruh nyebutin semua kenangan, mungkin nggak cukup 10 hari,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai ketua angkatan, Okho bertekad membangun komunikasi dan silaturahmi yang kuat dulu. “Karena kita nggak bisa bermanfaat sendirian. Harus bareng-bareng,” katanya mantap.
Salah satu alumni, Nurul Hadiyati, menyampaikan bahwa reuni kali ini terasa berbeda karena temanya menyentuh. Ia bilang, “Kadang ada yang minder datang karena ngerasa belum jadi siapa-siapa. Tapi di sini kita ngobrolin masa lalu, bukan status hari ini.”
Nurul merasa nyaman karena tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. “Kita setara. Kita semua alumni SMANSA 2000,” tuturnya.
Ia juga membagikan kenangan unik saat tampil di panggung teater sekolah tahun 98. “Saya jadi Krismoni, teman saya Krismono. Ceritanya tentang krisis moneter,” kenangnya sambil tertawa.
Setelah sesi sambutan dan pemilihan ketua, acara dilanjutkan dengan games, pembagian hadiah, dan doorprize. Suasana jadi makin cair, penuh tawa, dan saling olok khas anak SMA.
Editor: Bayu Mulyana











