CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Komarudin terduduk lemah di ranjang ruang rawat Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon. Mengenakan baju orange, ia sesekali terlihat masih merasa sakit paska operasi batu ginjal.
Komarudin sebelumnya sempat pupus harapan, lantaran memikirkan biaya yang harus ditanggungnya untuk operasi penyakit batu ginjal yang dideritanya.
Beruntung, pria berusia 40 tahun ini terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sehingga penanganan medis secara serius itu bisa tetap dilaksanakan.
Warga Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon ini bercerita, sebelum masuk rumah sakit, Ia merasakan sakit parah di bagian perut.
Awalnya, Ia mengira itu penyakit sakit perut biasa, masuk angin, atau separah-parahnya mag.
Namun, setelah beberapa hari, sakit tak kunjung hilang, sebaliknya, semakin bertambah rasa nyerinya.
Akhirnya, Komarudin dan keluarga pun memutuskan untuk memeriksa kondisi tubuhnya itu ke rumah sakit. Saat itu lah diketahui jika ia alami batu ginjal.
Komarudin dan istri mengaku terkejut mendengar informasi tersebut. Keduanya tak menyangka akan mengalami cobaan sebesar itu.
Lebih-lebih, penyakit yang disebabkan oleh penumpukan mineral dan garam tersebut harus ditangani secara serius, yaitu operasi.
Kata operasi menjadi momok yang cukup menakutkan, bukan hanya bagi keluarga Komarudin, tapi juga sebagian besar orang, terutama dari kalangan menengah ke bawah.
Prosedur medis itu menjadi momok menakutkan lantaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya medis selama pra dan pasca operasi.
Bayangan besaran biaya itulah yang sempat membuat Komarudin dan istri hawatir dan membuatnya sempat pupus harapan untuk bisa benar-benar sembuh.
Namun, harapan itu kembali ada usai pihak rumah sakit menegaskan jika prosedur operasi bisa dicover oleh BPJS Kesehatan.
“Ia, semuanya dibiayai BPJS Kesehatan,” ujar Komarudin didampingi istrinya.
Komarudin mengaku sangat bersyukur, berkat BPJS Kesehatan ia memiliki harapan untuk sembuh sehingga bisa kembali beraktivitas normal dan kembali ke keluarga.
Menurut pria kelahiran Cilegon tahun 1984 ini BPJS Kesehatan menjadi juru selamat bagi masyarakat seperti dirinya.
Rumah sakit sudah cukup menakutkan bagi masyarakat, bukan karena hawatir akan mendapatkan penanganan yang sangat serius, tapi juga karena biayanya.
Namun, berkat BPJS Kesehsatan, persoalan biaya tak lagi menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.
Karena itu, Komarudin berharap program BPJS Kesehatan agar tetap ada. Ia mengaku tak bisa membayangkan jika program itu dihapus. Akan ada banyak orang yang menjerit kebingungan saat alami sakit parah.
Ia juga mengajak semua peserta BPJS Kesehatan untuk rutin membayar iuran. Meski tidak menikmati manfaat jaminan kesehatan tersebut secara langsung, dengan membayar rutin, para peserta lain secara tidak langsung telah ikut serta menolong masyarakat yang sedang membutuhkan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak manajemen RSKM, Komarudin bukan satu-satunya orang yang telah merasakan manfaat besar dari BPJS Kesehatan.
Setiap tahunnya, ada ribuan orang yang menjalani operasi di RSKM dan seluruh biayanya ditanggung BPJS Kesehatan.
Di tahun 2024, ada sekira 5.040 operasi sedangkan di tahun ini sudah 2.193 operasi dilakukan di RSKM Cilegon.
Tidak hanya operasi, di RSKM Cilegon pun banyak pasien yang menjalani pelayanan cuci darah. Prosedur itupun dicover oleh BPJS Kesehatan.
Jumlah pasien cuci darah di RSKM pun sangat banyak setiap tahunnya.
Di tahun 2024, RSKM telah menerima layanan cuci darah sebanyak 22.224 layanan. (*)











