SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tim Program Studi Peternakan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang diketuai oleh Ainun Nafisah, S.Pt., M.Si., beserta anggota Vony Armelia, S.Pt., M.Pt. dan Radian Syafiyullah, S.Pt., M.Si., melaksanakan pengabdian kepada Masyarakat.
Kegiatan tersebut kembali meneguhkan komitmen Untirta dalam mengembangkan potensi lokal Provinsi Banten dengan mengangkat tema “Penyuluhan dan pengenalan potensi Talas Beneng (umbi khas Provinsi Banten sebagai pakan-red) di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini melibatkan kelompok tani Setia Kawan, ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Matahari, serta masyarakat sekitar yang memiliki minat dalam bidang pertanian dan peternakan. Ragkaian kegiatan berlangsung pada bulan Juli-Agustus. Pada hari terakhir pada Jumat 22 Agustus 2025 dilakukan penyerahan dan penanaman bibit Talas Beneng.
Tim dosen Program Studi Peternakan Untirta sebagai pelaksana kegiatan adalah tim yang mendapat hibah Pengabdian kepada Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada tahun 2025.
Talas Beneng, umbi khas Provinsi Banten, sejak lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pangan alternatif. Ciri khasnya yang menonjol adalah ukuran umbinya yang besar, kandungan serat tinggi, serta nilai gizi yang potensial. Namun, pemanfaatan talas beneng selama ini masih lebih banyak terbatas pada konsumsi manusia atau sekadar produk olahan sederhana. Padahal, hasil kajian menunjukkan bahwa talas beneng juga menyimpan manfaat besar sebagai bahan baku pakan ternak, khususnya bagi ruminansia.
Kepada Radar Banten Rabu 10 September 2025, Ketua Tim Program Studi Peternakan Untirta Ainun Nafisah, S.Pt., M.Si., menjelaskan, kandungan nutrisi pada talas beneng sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan ternak.
“Selain sebagai bahan pangan yang dapat diolah menjadi cake, keripik, bubur, hingga opor, talas beneng juga memiliki potensi ekspor. Yang menarik, limbah berupa kulit umbi yang biasanya dibuang, ternyata mengandung serat dan karbohidrat yang cukup tinggi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” jelasnya.
“Artinya, tidak ada bagian dari talas beneng yang terbuang percuma. Meskipun, memang butuh sentuhan teknologi dalam pengolahannya, karena masih banyak terdapat kandungan oksalat” sambungnya.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, tim Program Studi Peternakan Untirta berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan, diharapkan masyarakat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pakan ternaknya secara mandiri, tetapi juga membuka peluang usaha baru.
“Jika masyarakat mampu mengolah talas beneng dengan baik, baik untuk pangan maupun pakan, maka potensi ekonominya bisa meningkat signifikan. Talas beneng bisa menjadi komoditas unggulan Banten, tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional. Ke depan, kami ingin kegiatan seperti ini menjadi pemantik bagi lahirnya inovasi-inovasi baru berbasis potensi lokal,” tegas Ainun Nafisah.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan yang sangat positif dari Masyarakat salah satunya daru Ketua RT sekaligus sekretaris kelompok tani Setia Kawan, Koing yang berterimakasih kepada tim pengabdian yang sudah hadir memberikan penyuluhan.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu kami. Dengan adanya pengetahuan baru tentang pemanfaatan talas beneng sebagai pakan ternak, kami jadi tahu bahwa banyak sumber daya lokal yang sebenarnya bisa dimanfaatkan. Talas Beneng sering ditemui dipinggiran sungai, namun karena masyarakat hanya percaya bahwa itu umbi liar yang beracun, sehingga tidak ada yang berani mengolah atau memanfaatkannya. Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa sering dilakukan agar petani dan peternakan tidak hanya mengandalkan pakan konvensional, tetapi juga bisa lebih kreatif dalam mencari alternatif,” katanya, pada rilis berita yang dikirimkan pada Rabu, 10 September 2025.
Selain itu, ibu-ibu KWT Matahari dan anggota kelompok tani Setia Kawan juga terlihat sangat antusias mengikuti jalannya acara. Mereka aktif bertanya mengenai teknik pengolahan pakan berbasis talas beneng, mulai dari pembuatan silase, amoniasi, hingga hay sebagai bentuk teknologi sederhana namun bermanfaat.
“Perkembangan teknologi pengolahan pakan ini sebenarnya sangat penting, apalagi ketika musim kemarau dan pakan sulit diperoleh. Dengan adanya inovasi seperti silase atau hay, kami bisa menyimpan pakan lebih lama dan tidak khawatir saat kekurangan hijauan,” ungkap Mulyanti, Sekretaris KWT Matahari.
Talas beneng bukan hanya sekadar tanaman lokal yang tumbuh subur di wilayah Banten. Umbi ini memiliki ukuran yang dapat mencapai puluhan kilogram, sehingga berpotensi besar sebagai bahan pangan maupun pakan. Bagi masyarakat, talas beneng sudah mulai dikenal sebagai bahan dasar untuk produk olahan bernilai ekonomi, seperti keripik, bolu, dan berbagai sajian kuliner. Namun, yang masih jarang diketahui adalah potensi besar talas beneng sebagai pakan alternatif.
Dari hasil kajian tim, kandungan nutrisi yang terdapat dalam umbi maupun kulit talas beneng dapat mendukung pertumbuhan ternak. Bahkan, karena kadar seratnya tinggi, talas beneng sangat sesuai untuk kebutuhan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Kelebihan lain yang menjadikan talas beneng istimewa adalah sifatnya yang tahan tumbuh di lahan kering.
Hal ini menjadikan talas beneng sebagai tanaman strategis dalam mendukung ketahanan pakan di tingkat rumah tangga peternak. Dalam konteks perubahan iklim yang sering memengaruhi ketersediaan hijauan, hasil samping talas beneng bisa menjadi solusi yang menjanjikan untuk tercukupinya kebutuhan harian ternak.
Kegiatan pengabdian ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya fokus pada pengajaran dan penelitian, tetapi juga hadir memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat. Penyuluhan mengenai talas beneng ini hanyalah salah satu bentuk kecil dari upaya besar untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Dengan melibatkan mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran praktis yang berharga. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga terjun langsung melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat diaplikasikan untuk memecahkan persoalan nyata di masyarakat.
Dalam skala lebih luas, upaya pemanfaatan talas beneng sebagai pakan ternak dapat menjadi bagian dari strategi nasional untuk mencapai kemandirian pakan. Selama ini, biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan. Dengan adanya alternatif pakan lokal yang murah, bergizi, dan mudah diperoleh, beban peternak dapat berkurang. Lebih jauh lagi, jika pengolahan talas beneng dilakukan secara terintegrasi, maka dapat tercipta rantai nilai ekonomi baru. Dari budidaya, pengolahan pangan, pengolahan pakan, hingga pemasaran produk, semuanya bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
Kegiatan Penyuluhan Pengenalan dan Potensi Talas Beneng sebagai Pakan Ternak yang dilaksanakan pada 10 Juli 2025 di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga wujud nyata pemberdayaan masyarakat. Dengan mengenalkan talas beneng sebagai komoditas multifungsi, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pemanfaatan potensi lokal yang lebih luas dan berkelanjutan.
Untirta melalui Program Studi Peternakan, berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, mendukung petani dan peternak dalam meningkatkan kapasitas, serta mengembangkan inovasi berbasis kearifan lokal. Talas beneng hanyalah salah satu contoh bahwa potensi lokal jika digali dan dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung ketahanan pangan, kemandirian pakan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Abdul Rozak











