PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID–Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, Habibi Arafat menyentil soal ribuan warga Pandeglang hingga kini masih belum mengantongi alias memiliki KTP elektronik atau e-KTP.
Habibi Arafat, mendesak pemerintah daerah, khususnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), agar lebih agresif turun ke lapangan melakukan jemput bola.
Menurut Habibi, akses warga untuk mendapatkan layanan perekaman KTP-el masih terbatas. Saat ini hanya sebagian kecamatan yang melayani, sementara warga di pelosok harus menempuh perjalanan jauh ke kantor kecamatan atau pusat kabupaten.
“Disdukcapil harus proaktif. Data warga yang belum punya KTP sudah ada, tinggal dipetakan daerah mana yang paling tinggi. Kalau akses jauh, harus jemput bola ke wilayah selatan, misalnya Sumur atau Cibaliung,” kata Habibi Arafat saat dihubungi RADARBANTEN.CO.ID, Rabu 24 September 2025.
Habibi juga menyoroti minimnya sosialisasi, terutama bagi anak muda lulusan sekolah menengah yang baru berusia 17 tahun. Padahal kelompok ini mendominasi jumlah warga yang belum melakukan perekaman.
“Setiap tahun ada data lulusan sekolah, itu bisa jadi dasar untuk jemput bola. Misalnya perekaman kolektif di sekolah atau di desa, jangan hanya menunggu masyarakat datang ke kantor Disdukcapil,” tegasnya.
Politikus Golkar itu menilai angka 23.453 warga tanpa KTP-el bukan jumlah kecil. Jika dibiarkan, ribuan warga akan menghadapi kesulitan saat mengakses layanan publik, bantuan sosial, bahkan peluang kerja.
“Administrasi kependudukan ini fundamental. Jangan sampai hanya karena KTP-el, masyarakat kehilangan haknya untuk layanan dasar dan yang lainnya,” ujarnya.
Habibi meminta Disdukcapil segera menyusun strategi pelayanan yang lebih efektif, termasuk memperluas pelayanan keliling dan menjalin kerja sama dengan pemerintah desa. Dengan begitu, persoalan kependudukan bisa ditangani lebih cepat dan merata.
Sebelumnya diberitakan, Sebanyak 23.453 warga Kabupaten Pandeglang hingga kini tercatat belum memiliki KTP elektronik (KTP-el). Mayoritas dari jumlah tersebut merupakan remaja lulusan sekolah yang belum melakukan perekaman data kependudukan.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: AGung S Pambudi











