• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Humaniora

Mengapa Tiongkok Lebih Kaya Raya, Sementara Indonesia Lebih Bebas? (2/habis)

Redaksi by Redaksi
Jumat, 3 Oktober 2025 09:00
in Humaniora
0
Mengapa Tiongkok Lebih Kaya Raya, Sementara Indonesia Lebih Bebas? (1)
0
SHARES
173
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Oleh: Nahwadhia Fityan Mutammima

Kontrol Ketat Partai Komunis

Model Tiongkok bukan­lah kapitalisme murni, me­lainkan Kapitalisme Negara (State Capitalism). Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap memegang ken­dali politik yang ab­solut dan pengaruh kuat di sektor ekonomi strategis, me­mastikan BUMN tetap dominan, efisien, dan kompetitif.

Hasil Ekonomi yang Mencengangkan

Tiongkok mencatat pertumbuhan rata-rata hampir 10% per tahun selama tiga de­kade. Ratusan juta penduduk terangkat dari kemiskinan, mengubah Tiongkok men­jadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Pendapatan per kapita mereka me­ningkat tajam, jauh melampaui Indo­nesia.

Namun, harga dari kemajuan ini mahal: ketidaksetaraan pendapatan yang parah dan kurangnya kebebasan politik serta pembatasan informasi yang ketat.

Indonesia: Dari Pancasila ke Ekonomi Pasar

Indonesia mendasarkan sistem ekonomi­nya pada Sistem Ekonomi Pancasila (Pasal 33 UUD 1945), yang mengedepankan ke­keluargaan, demokrasi ekonomi, dan kea­dilan sosial. Prinsipnya menolak eks­trem: tidak mau liberalisme (free-fight li­b­eralism) maupun komunisme (étatisme).

Liberalisasi Pasca-Reformasi.

Meskipun berlandaskan Pancasila, reali­tas ekonomi Indonesia pasca-Orde Baru dan krisis 1998, bergerak menuju Ekonomi Pasar Terbuka yang lebih liberal. Reformasi yang didorong oleh deregulasi, privatisasi, dan keterbukaan pasar, men­jadikan In­donesia sangat bergantung pada investasi swasta dan permintaan do­mestik.

Demokrasi Versus Kecepatan Pembangunan

Indonesia berhasil menjaga demokrasi politik dan stabilitas ekonomi makro. Ke­­bebasan berekspresi dan hak milik pri­badi lebih terjamin, sebuah nilai yang tak dimiliki Tiongkok.

Namun, laju pertumbuhan ekonomi In­donesia cenderung lebih lambat dan ku­rang konsisten dibandingkan rivalnya. Indonesia kini berjuang keras untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), sambil bergulat dengan masalah klasik seperti birokrasi yang lambat, korupsi, dan kesenjangan infrastruktur.

Kesimpulan: Kualitas Kemajuan yang Berbeda

Dua negara, dua pertukaran (trade-off) yang fundamental:pertama, Tiongkok: Me­milih Kemajuan Ekonomi dengan me­ngorbankan Kebebasan Politik. Kedua, Indonesia: Memilih Demokrasi Politik dengan kecepatan pembangunan ekonomi yang Lebih Moderat.

Jika tolok ukur kemajuan adalah PDB dan kecepatan pengentasan kemiskinan, Tiongkok jelas memenangkan perlombaan.

Namun, kemajuan sejati tidak hanya diukur dengan angka PDB. Indonesia me­nawarkan model yang lebih ber­ke­lan­jutan secara politik dalam kerangka de­mokrasi—nilai fundamental yang tak dapat diabaikan.

Masa depan ditentukan oleh kemampuan mereka mengatasi masalah internal: Tiong­kok harus menemukan cara mengu­rangi kesenjangan tanpa mengorbankan stabilitas, sedangkan Indonesia harus mem­berantas korupsi dan membangun institusi kuat agar nilai-nilai Ekonomi Pan­casila (kekeluargaan dan keadilan sosial) bisa bersanding harmonis dengan daya saing di pasar global.

(Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta.)

Tags: wacana publik
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Bupati Pandeglang Dijadwalkan Menghadiri Sosialisasi BBWSC3 Hari Ini, 3 Oktober 2025

Next Post

Siap-siap, Pemerintah Kasih Diskon Tiket Kereta, Kapal, dan Pesawat untuk Natal dan Tahun Baru 2026

Next Post
Siap-siap, Pemerintah Kasih Diskon Tiket Kereta, Kapal, dan Pesawat untuk Natal dan Tahun Baru 2026

Siap-siap, Pemerintah Kasih Diskon Tiket Kereta, Kapal, dan Pesawat untuk Natal dan Tahun Baru 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Pemulasan Golok Ciomas, Tradisi Turun Temurun yang Berlangsung Selama 7 Generasi

by Ahmad Rizal Ramdhani
Selasa, 25 Agustus 2026 17:48
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - Tradisi pemulasan golok Ciomas merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap memasuki tanggal 12 Robiul Awal atau bulan...

Operator Mekanik PT Platinum City Star Didakwa Melakukan Penggelapan Komponen Mesin

by Fahmi
Selasa, 25 Agustus 2026 17:45
0

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Warsilo pria yang bekerja sebagai operator mekanik PT Platinum City Star (PCS) didakwa melakukan penggelapan sparepart tempatnya...

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.