SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ghefira Qiana Aqilla, finalis Puteri Batik Remaja Indonesia 2025, menjelajahi berbagai sentra batik Banten sebagai wujud nyata pelestarian warisan budaya Indonesia.
Selama dua bulan, setiap akhir pekan, remaja asal Serang ini menelusuri kekayaan motif dan filosofi batik di enam daerah di Provinsi Banten.
Aqilla, sapaan akrabnya, terpilih sebagai Putri Remaja Indonesia Banten Bidang Budaya 2025. Ia berkomitmen memperkenalkan batik Banten sebagai identitas budaya dan potensi ekonomi kreatif daerah di tingkat nasional.
“Batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan cerita tentang kehidupan dan nilai-nilai masyarakat yang dituangkan dalam warna dan pola,” ujar Aqilla,inggih (19/10/2025).
Menyusuri Sentra Batik di Banten
Perjalanan dimulai di Batik Mukarnas, Kota Serang, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan batik Banten. Sejak dipatenkan pada 2004, Mukarnas memiliki lebih dari seratus motif khas, seperti Golok Jawara, Kaibonan, dan Menara Banten. Setiap corak merefleksikan nilai spiritual dan filosofi arsitektur Kesultanan Banten Lama.
Aqilla melanjutkan eksplorasi ke Imah Batik Sahate di Kabupaten Lebak. Ia menemukan motif Seren Taun, Kalimaya, dan Angklung Buhun yang menggambarkan rasa syukur dan harmoni masyarakat Baduy. Kain tenun Baduy, yang telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), mempertegas identitas budaya Lebak sebagai bagian penting dari warisan Banten.
Di Cilegon, Aqilla mengunjungi Batik Krakatoa, tempat pengrajin menghadirkan motif Gunung Krakatoa, Ombak Laut, dan Sate Bandeng—perpaduan antara karakter pesisir dan industri yang menggambarkan semangat kemajuan.
Sementara di Balada Batik Banten, ia mempelajari motif dari Serang dan Pandeglang seperti Karangbolong, Bendungan Pamarayan, dan Badak Cula Satu. Corak tersebut menampilkan keindahan alam sekaligus semangat masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pembangunan daerah.
Aqilla juga mengunjungi Batik Pusaka Banten di Kota Serang, yang menampilkan motif Paok Pancawarna, Jamblang, dan Sawung Patok—simbol keindahan dan kerukunan masyarakat. Pemerintah Kota Serang bahkan menjadikan motif Sawung Patok sebagai seragam resmi ASN pada 2019.
Di akhir perjalanan, ia tiba di Batik Balaraja, Kabupaten Tangerang. Motif Gerbang Wareng, Rambutan Parakan, dan Tugu Raksa menunjukkan inovasi pengrajin dalam menggabungkan unsur sejarah, alam, dan industri modern.
“Batik Banten punya potensi besar sebagai ikon ekonomi kreatif nasional karena memadukan tradisi, inovasi, dan pemberdayaan perempuan,” kata Aqilla.
Menuju Pentas Nasional
Kini, Aqilla bersiap tampil di final Puteri Batik Remaja Indonesia 2025 di Jakarta. Ia membawa misi memperkenalkan batik Banten sebagai simbol kebanggaan generasi muda. Melalui konten digital dan kolaborasi dengan desainer muda, Aqilla mengajak remaja untuk menjadikan batik sebagai gaya hidup modern.
“Batik bukan busana kuno. Dengan sentuhan modern, batik bisa tampil keren, berkarakter, dan membanggakan,” ujarnya penuh semangat.
Perjalanan Ghefira Qiana AAqilla membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara kreatif dan relevan. Dengan semangat muda dan kecintaan terhadap budaya, ia bertekad menjadikan batik Banten sebagai ikon baru yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia.
Editor: Abdul Rozak











