SERANG, RADARBANTEN.CO.ID– Upaya memperkenalkan Batik Banten kepada masyarakat terus dilakukan dengan berbagai cara kreatif. Salah satunya dilakukan oleh model asal Kota Serang, Ghefira Qiana Aqilla, Runner Up 4 Putri Batik Remaja Indonesia 2025, dalam acara Pasar Jedogan Tradisi Wong Serang yang digelar di Pasar Lama Kota Serang pada Selasa (17/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ghefira tampil memukau dalam sesi catwalk dengan mengenakan Batik Banten bersama sejumlah model dari Sanggar Rossy’s Entertainment.

Tak hanya itu, ia juga turun langsung berinteraksi dengan warga dan pedagang di area acara. Secara personal, ia mengajukan pertanyaan seputar Batik Banten untuk mengedukasi sekaligus mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap warisan budaya daerah tersebut.
Sebagai salah satu kekayaan budaya lokal, Batik Banten diketahui memiliki 12 motif utama yang telah dipatenkan dan diakui secara resmi. Selain itu, terdapat puluhan motif lain yang telah diteliti, seperti Golok Jawara, Menara Banten, Kapurban, Kawangsan, Pancaniti, Pasepen, Pasulaman, Pejantren, hingga Srimanganti.
Salah satu motif khas dalam Batik Banten adalah Motif Surosowan, yang terinspirasi dari kawasan istana peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin. Motif ini menjadi simbol kuat sejarah dan kejayaan Kesultanan Banten di masa lalu.
Dari hasil interaksi di lapangan, pandangan warga terhadap penggunaan Batik Banten cukup beragam. Sebagian besar menilai batik ini lebih cocok dikenakan dalam acara formal karena motifnya yang elegan dan penuh makna. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa Batik Banten tetap fleksibel dan bisa digunakan dalam kegiatan santai, tergantung desain dan warna.
Terkait frekuensi penggunaan, mayoritas warga mengaku hanya memakai Batik Banten saat acara tertentu seperti undangan atau kegiatan resmi. Sementara itu, pelajar biasanya mengenakan batik saat kegiatan sekolah, meskipun ada juga yang jarang menggunakannya.
Melalui kegiatan ini, Aqilla berharap masyarakat semakin mengenal dan bangga menggunakan Batik Banten dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi langsung seperti ini dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran sekaligus melestarikan budaya lokal agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman.
Editor : Aas Arbi











