SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Desa Kabudenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang membudidaya sebanyak 800 ekor ayam petelur untuk program ketahanan pangan desa.
Ayam petelur dipilih karena dinilai sangan efektif untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes) karena peluangnya sangat besar. Selain itu, untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Desa Kadugenep Muhammad Aopidi mengatakan, potensi ekonomi dari budidaya ayam petelur bisa berkembang karena peluangnya sangat terbuka.
Apalagi adanya SPPG di Kabupaten Serang membuka lebar peluang untuk memasarkan hasil panen.
“Ada sebanyak 800 ekor ayam petelur yang kita budidayakan saat ini, hasilnya memang belum terlihat. Tapi adanya budidaya ini bisa meningkatkan perekonomian di masyarakat,” kata Kepala Desa Kadugenep, Aopidi, Rabu 5 November 2025.
Pengelolaan budidaya ayam petelur dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Bersama yang dibiayai melalui anggaran dana desa sebesar 20 persen.
“Budidaya ini sebagai bentuk mendukung program ketahanan pangan yang ada di desa. Kenapa kita pilih budidaya ayam petelur? Karena resikonya tidak terlalu tinggi dan pangsa pasarnya besar,” katanya.
Aop berencana, hasil panen akan disuplai ke SPPG untuk mendukung program MBG. “Kedepan kita akan menambah jumlah ekor ayam supaya perekonomiannya semakin meningkat. Sehingga usaha-usaha yang ada di desa semakin baik,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua BUMDes Maju Bersama Dede Saepul Haris mengatakan, budidaya ayam petelur dinilai memiliki peluang bisnis yang besar.
“Progran ini sudah menjadi arahan dari Pemerintah Pusat, jadi karena peluang bisnisnyasangat terlihat maka budidaya ayam petelur ini bisa meningkatkan perekonomian di desa,” ujarnya.
Ditambah lagi, adanya program MMBG akan mempernudan pemasaran produk yang dihasilkan dari budidaya ayam petelur meningat kebutuhan untuk program tersebut sangat besar.
“Kalau satu dapur butuh 3.000 telur per hari, maka kebutuhannya sangat besar. Maka bisnis ayam petelur ini bisa menunjang adanya program MBG tersebut,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











