SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi potensi bencana megathrust yang dapat terjadi di perairan Selat Sunda, salah satu zona rawan gempa terbesar di Indonesia.
Wilayah perairan Selat Sunda diketahui termasuk dalam zona megathrust — yakni wilayah pertemuan dua lempeng tektonik besar yang menyimpan energi dalam jumlah sangat besar dan bisa dilepaskan dalam bentuk gempa bumi dahsyat serta tsunami.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dari 13 zona megathrust di Indonesia, ada tiga zona yang memiliki risiko tinggi karena belum pernah mengalami gempa besar dalam ratusan tahun terakhir, yakni Mentawai–Siberut (potensi magnitudo 8,9), Selat Sunda (8,7), dan Sumba (8,5).
Ancaman di Wilayah Pesisir Banten
Analis Kebencanaan Pusdalops BPBD Kabupaten Serang, Priyo Dwi Irianto, menjelaskan bahwa apabila gempa megathrust terjadi di Selat Sunda, wilayah Kabupaten Serang — khususnya Kecamatan Anyar dan Cinangka — berpotensi terdampak tsunami.
“Itu bisa memicu tsunami dengan ketinggian gelombang antara 5 hingga 7 meter di wilayah Anyar–Cinangka, dengan perkiraan waktu tiba 61 hingga 63 menit setelah gempa,” ujarnya, Selasa, 11 November 2025.
Priyo menambahkan, radius gelombang tsunami dapat menjangkau hingga dua kilometer dari garis pantai. “Wilayah dalam radius dua kilometer berpotensi terdampak secara langsung,” katanya.
Langkah Mitigasi dan Edukasi Masyarakat
BPBD Kabupaten Serang telah melakukan berbagai upaya mitigasi, termasuk memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat pesisir mengenai langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa atau tsunami.
“Paling tidak, masyarakat harus tahu dulu ilmunya — tahu skenario dampak, tahu ke mana arah evakuasi, dan bagaimana cara menyelamatkan diri. Itu sudah kami sampaikan dalam berbagai kegiatan sosialisasi,” jelasnya.
Namun, Priyo mengakui masih ada pekerjaan rumah besar, yakni edukasi bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata pantai di wilayah tersebut. “Karena ini kawasan wisata, kami juga melakukan edukasi ke pihak manajemen hotel dan tempat wisata agar paham langkah penyelamatan,” ujarnya.
Peringatan Dini dan Jalur Evakuasi
Selain edukasi, BPBD juga telah memasang rambu-rambu evakuasi dan menyiapkan tiga jalur evakuasi utama di wilayah Anyar–Cinangka.
Pihaknya juga telah mengaktifkan Early Warning System yang akan berbunyi otomatis jika terdeteksi potensi tsunami.
“Kalau akan terjadi tsunami, sirine akan menyala selama tiga menit nonstop. Itu tanda agar masyarakat segera evakuasi ke titik aman,” jelas Priyo.
Sebagai catatan sejarah, gempa besar di zona subduksi Selat Sunda terakhir kali terjadi pada tahun 1757, atau sekitar 260 tahun yang lalu. “Artinya, energi di sana masih tertahan. Bisa saja sewaktu-waktu terjadi pelepasan energi besar yang memicu gempa dan tsunami. Itu yang terus kami antisipasi,” pungkasnya.











