KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Tragedi kembali menyelimuti dunia pendidikan Kota Tabgsel. MH (13), siswa SMPN 19 Tangsel yang menjadi korban bullying hingga mengalami luka parah di kepala, akhirnya meninggal dunia pada Minggu 15 November 2025, pukul 07.00 WIB.
Korban menghembuskan napas terakhir setelah lebih dari empat hari tidak sadarkan diri.
MH dimakamkan pada hari yang sama di pemakaman keluarga di Ciater, Kota Tangsel, tak jauh dari rumah duka di Gang Haji Amat, Ciater.
Sepupu korban, Rizky Fauzi, mengatakan, kondisi MH terus memburuk sejak insiden kekerasan yang terjadi pada 20 Oktober 2025.
Korban sebelumnya sempat dirawat intensif di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, akibat luka serius di bagian kepala.
“Dari hari Selasa dia sudah enggak sadar sampai akhirnya tadi pagi jam 7 pagi meninggal,” ungkap Rizky.
Kasus berawal dari dugaan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh teman sekelasnya berinisial R. Pelaku disebut memukul kepala MH menggunakan kursi besi di lingkungan sekolah.
Akibat pukulan itu, MH mengalami sejumlah gangguan fisik seperti tubuh lemah, tidak mampu berjalan, rabun, sering pingsan, dan hilang nafsu makan.
“Awalnya cuma pusing dan lemas, lalu makin parah. Sehari setelah kejadian baru ngadu ke keluarga karena enggak kuat nahan sakit,” ujar Rizky.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa MH sudah sering dibully sejak awal masuk sekolah. Pelaku disebut kerap memukul dan mempermalukan korban di depan teman-teman.
Keluarga korban sempat mendapat bantuan awal sebesar Rp3,6 juta dari orang tua pelaku untuk biaya pengobatan di RS Columbia. Namun setelah itu, tidak ada lagi tanggung jawab lanjutan.
“Awalnya pihak pelaku menyanggupi biaya pengobatan sampai sembuh. Tapi sekarang mereka enggak mau lagi, bahkan kami disuruh cari pinjaman,” kata Rizky.
Situasi kian sulit karena BPJS Kesehatan MH baru aktif pada 28 Oktober, menyebabkan proses rujukan ke RS Fatmawati tertunda.
Keluarga menyesalkan sikap SMPN 19 Tangsel yang dianggap tidak memberikan pendampingan dan penanganan tegas terhadap pelaku. Mereka justru diminta mengadukan peristiwa tersebut ke Dinas Pendidikan Tangsel.
“Sekolah seperti tidak mau bertanggung jawab,” tegas Rizky.
Pihak keluarga kini berharap Pemerintah Kota Tangsel dan kepolisian segera bertindak tegas atas kasus yang menimpa MH. Mereka meminta pelaku mendapatkan sanksi dan pihak yang lalai turut dimintai pertanggungjawaban.
“Kami ingin kasus ini diusut sampai tuntas. Jangan ada lagi korban seperti MH,” ujar Rizky.
Kepergian MH menambah panjang daftar korban bullying di lingkungan pendidikan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak dapat mengakibatkan dampak fatal.
Pihak keluarga dan masyarakat kini menanti langkah konkret Pemkot Tangsel dan aparat penegak hukum dalam menangani tragedi ini.
Editor: Mastur Huda











