SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah berbagai tantangan penarikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), para operator lapangan di tingkat kelurahan menjadi garda terdepan yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Salah satunya adalah staf Kelurahan Kota Baru, Atia Turohmi, yang setiap hari turun langsung bertemu warga untuk memastikan penerimaan PBB berjalan optimal.
Atia mengatakan, hingga 30 November 2025, realisasi PBB di Kelurahan Kota Baru telah mencapai 62,5 persen, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 61,5 persen.
Peningkatan 1 persen ini, menurutnya, menjadi indikator bahwa kesadaran warga untuk membayar pajak semakin membaik.
“Walaupun peningkatannya baru satu persen, ini menunjukkan ada perubahan positif. Masyarakat semakin paham bahwa pembayaran PBB merupakan kewajiban yang berdampak langsung pada pembangunan kota,” ujarnya kepada Radar Banten, Selasa 9 Desember 2025.
Dalam keseharian, Atia tidak hanya mendata, tetapi juga menjadi jembatan informasi antara pemerintah kelurahan dan warga.
Ia mengaku peran sebagai operator penagih pajak sangat penting karena memberikan kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Pendekatan dari rumah ke rumah jauh lebih efektif. Warga merasa terbantu karena prosesnya lebih sederhana, dan kami sekaligus bisa mengevaluasi kendala di lapangan,” jelasnya.
Dengan tatap muka dan obrolan ringan, Atia kerap menjelaskan manfaat PBB, tujuan penarikan pajak, hingga cara pembayaran yang kini semakin mudah.
Pendekatan humanis ini, menurutnya, menjadi kunci dalam membangun kepercayaan warga.
Meski begitu, pekerjaan ini bukan tanpa hambatan. Atia menyebut sejumlah kendala yang kerap ditemui, mulai dari data wajib pajak yang tidak lengkap, sulitnya menghubungi pemilik rumah yang berdomisili di luar kota, hingga bidang tanah kosong tanpa penghuni yang menyebabkan proses penagihan berjalan lambat.
“Sebagian warga juga masih perlu edukasi mengenai manfaat PBB. Ada yang belum memahami bahwa pajak mereka digunakan untuk fasilitas umum yang juga mereka nikmati,” ungkapnya.
Namun kendala itu tak menyurutkan semangatnya. Ia dan tim terus menggunakan pendekatan persuasif dan humanis agar proses penagihan berjalan lancar.
Menurut Atia, penagihan PBB justru memberikan banyak pengalaman positif. Warga umumnya menyambut baik kedatangan petugas dan mengapresiasi interaksi langsung yang dianggap lebih efisien.
“Dengan turun langsung ke lingkungan, kami bisa menjelaskan bahwa pajak yang mereka bayarkan akan kembali ke masyarakat dalam bentuk pembangunan. Ini membuat warga merasa lebih dihargai,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh warga Kelurahan Kota Baru untuk disiplin membayar PBB tepat waktu.
“Setiap rupiah yang dibayarkan digunakan untuk membangun fasilitas umum, memperbaiki jalan, dan meningkatkan pelayanan publik. Ini bentuk kontribusi kita bersama untuk memajukan Kota Serang,” tegasnya.
Atia juga turut menyampaikan apresiasi khusus kepada atasannya yang selalu memberikan pendampingan penuh.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Ariesta Yudhitia Wardani yang selalu memberikan support luar biasa. Beliau bukan hanya atasan, tetapi pembimbing yang terus mendorong kami bekerja lebih baik,” tuturnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor: Agung S Pambudi












