SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Hingga bulan November 2025, terjadi sebanyak 106 kasus kekerasan di Kabupaten Serang. Dari jumlah tersebut, 23 kasus menimpa perempuan dewasa sementara 83 kasus menimpa anak-anak.
Data tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak pada DKBPPPA Kabupaten Serang, Opik Piqhi.
Ia mengungkapkan, kasus kekerasan yang terjadi di Kabupaten Serang didominasi oleh kasus kekerasan seksual. “Jenis kasusnya memang ini tetap masih didominasi kekerasan seksual. Sementara untuk kekerasan pada perempuan lebih didominasi memang di KDRT,” ujarnya.
Ia mengatakan, banyaknya kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak diakibatkan oleh beberapa faktor. Mulai dari lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh keluarga, kurangnya waktu bersama anak, hingga dampak negatif dari penggunaan gadget yang berlebihan.
“Memang gadget dan sosial media itu menjadi faktor. Lalu lemahnya pengawasan orang tua dan minimnya waktu lung untuk anak-anak sehingga tidak terawasi,” ujarnya.
Opik mengungkapkan, mayoritas pelaku kekerasan seksual merupakan orang-orang terdekat, mulai dari keluarga, pacar hingga tetangga. “Untuk pelaku mayoritas orang dewasa, namun ada beberapa kasus juga yang dilakukan oleh anak,” terangnya.
Biasanya, ketika anak-anak menjadi korban kekerasan seksual akan terjadi perubahan perilaku yang signifikan. Yang semula ceria, akan akan menjadi pemurung, senang menyendiri, pendiam hingga emosinya juga cenderung tidak stabil.
“Saat seorang anak yang tadinya ceria kemudian dia menyendiri, tidak pernah bercerita, kemudian lebih dalam tanda kutip rendah diri. Nah, itu yang paling sering ditemukan. Dari kasus yang ada, anak biasanya akan bercerita ketika merasa sakit,” ujarnya.
Opik mengatakan, peran yang paling penting untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual adalah keluarga. Orang tua tentunya harus mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh anak-anaknya.
Tentunya pengawasan penting dilakukan sehingga anak tidak menjadi korban kekerasan. Orang tua juga harus aktif mengajak anak-anaknya untuk bercerita.
“Orang tua harus tahu anak-anak tadi di sekolah main dengan siapa, mainnya apa. Yang paling penting juga waktu untuk anak-anak bercerita kepada orang tua. Nah, jadi memang pelukan orang tua, kehangatan orang tua, memberikan waktu luang untuk anak-anak, itu yang paling penting hari ini,” ujarnya.
Pihaknya mengaku, telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan. Mulai dari memberikan edukasi ke sekolah-sekolah.
“Ada 73 sekolah yang sudah kita edukasi, kurang lebih ada sekitar 9.000 anak. Mudah-mudahan output-nya anak-anak bisa menjaga dirinya secara pribadi,” ujarnya
Opik berharap, agar para pelaku kekerasan seksual bisa diberikan hukuman yang berat sehingga mampu memberikan efek jera kepada para pelaku.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani












