PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID — Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Pandeglang dalam beberapa hari terakhir merendam ribuan hektare lahan pertanian. Dampak banjir tersebut tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga memukul sektor pertanian karena puluhan hektare sawah dilaporkan mengalami gagal panen atau puso.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar, menyampaikan hasil pendataan sementara mencatat sekitar 2.165 hektare sawah terendam banjir akibat curah hujan tinggi.
“Curah hujan beberapa hari terakhir menyebabkan banjir, tidak hanya di permukiman tetapi juga lahan sawah. Dari hasil pendataan petugas di lapangan, sekitar 2.165 hektare sawah terendam,” kata Uun saat meninjau lokasi banjir bersama Bupati Pandeglang, Jumat, 16 Januari 2026.
Selain itu, dari total lahan terdampak, sekitar 21 hektare sawah dipastikan mengalami puso. Namun, Uun menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.
“Per 12 Januari, ada sekitar 21 hektare yang benar-benar gagal panen. Angka ini masih bisa berubah karena pendataan masih berjalan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Uun menjelaskan lahan sawah yang terdampak banjir tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Sementara itu, lahan yang mengalami puso tidak terkonsentrasi di satu wilayah, melainkan tersebar di sejumlah kecamatan.
“Puso tidak hanya terjadi di satu kecamatan, tetapi di beberapa wilayah dari total 13 kecamatan terdampak,” jelasnya.
Ia menambahkan, usia tanaman padi yang terendam banjir bervariasi, mulai dari 30 hingga 100 hari. Bahkan, sebagian tanaman sudah mendekati masa panen sehingga meningkatkan potensi kerugian petani.
“Usia tanaman ada yang 30 sampai 75 hari, ada juga yang 75 sampai 100 hari. Bahkan ada yang sudah siap panen, tapi terendam banjir,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, DPKP Pandeglang telah mengajukan bantuan benih padi ke Pemerintah Provinsi Banten serta mengusulkan bantuan beras bagi petani terdampak. Namun demikian, hingga kini belum tersedia skema bantuan langsung khusus bagi lahan yang mengalami puso.
“Untuk bantuan puso memang belum ada, baik dari pusat, provinsi, maupun kabupaten. Karena itu kami berharap petani yang terdampak sudah terdaftar dalam Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP),” ujarnya.
Melalui program AUTP yang diselenggarakan Kementerian Pertanian, petani diharapkan dapat memperoleh klaim asuransi guna meringankan kerugian akibat gagal panen.
“Kami berharap petani yang terdampak puso sudah menjadi peserta asuransi agar bisa mendapatkan klaim,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia/Editor: Aas Arbi











