PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ratusan orang mengikuti edukasi publik literasi keuangan bertempat Mina Agrowisata Bukit Sinyonya, Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang.
Acara edukasi publik literasi keuangan diselenggarakan oleh Universitas Faletehan berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) Pilarmas Investindo Sekuritas dan Pemerintah Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan edukasi publik literasi keuangan diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan yang bijak dan aman.
Tujuannya agar masyarakat umum, pelaku usaha desa agar lebih bijak dalam mengelola keuangan, menabung, serta mengenal investasi yang legal dan terpercaya.
Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja mengatakan, hari ini ada kegiatan literasi keuangan.
“Yang difasilitasi oleh Universitas Feletehan. Narasumbernya ada dari OJK, BI, BEI, dan Pilarmas Unvestindo Sekuritas,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin, 26 Januari 2026.
Tentunya kegiatan literasi keuangan ini akan membawa masyarakat Desa Bandung, khususnya para kaula muda untuk mendapatkan literasi keuangan.
“Bagaimana mengelola keuangan dengan baik dan untuk bisa ikut investasi dalam pasar saham nasional dan internasional,” katanya.
Mudah-mudahan, Kades Wahyu menegaskan, kegiatan literasi keuangan difasilitasi oleh Universitas Faletehan berdampak positif pada masyarakat.
“Khususnya para kaula muda dalam rangka pemanfaatan sistem keuangan digital,” katanya.
Dosen prodi manajemen Fakultas Ekonomi Bidang Bisnis Universitas Faletehan dan juga selaku pembina KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) dan Galeri Investasi Universitas Faletehan Heru W mengungkapkan, bahwasannya Unversitas Faletehan melaksanakan kegiatan hari ini adalah terkait edukasi publik literasi keuangan.
“Fokusnya adalah bahwa kita memberikan literasi keuangan kepada masyarakat Desa Bandung khususnya. Dan diantaranya pengusaha UMKM, para penggiat bisnis dan sebagainya,” katanya.
Seperti yang telah ketahui bersama, bahwa warga Banten umumnya inklusi keuangan lebih tinggi daripada literasi keuangan. Jadi inklusi keuangan itu bisa mencapai 80 persen sampai hampir 90 persen inklusi keuangannya.
“Namun literasinya masih minim. Baru sekitar 50 persen nah apa yang terjadi, sebenarnya masyarakat sudah punya akun, sudah bisa bertransaksi bahkan pakai transaksi digital juga sudah terbiasa, namun pemahaman tentang apa itu masih minim,” katanya.
Akhirnya, masyarakat tidak bisa membedakan, Bursa Efek aja, antara trading dan forex, komoditi, dengan investasi saham. Belum lagi tentang keuangan bisa bertransaksi digital tapi sering ketipu.
“Nah poin itulah yang kemudian kita menyelenggarakan ini. Dalam rangka membantu pemerintah untuk bisa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keuangan,” katanya.
Tujuan literasi keuangan ini agar mereka terjaga bisa menggunakannya dan paham melaksanakan dan paham transaksi itu dilakukan.
“Agar masyarakat umum, pelaku usaha desa agar lebih bijak dalam mengelola keuangan, menabung, serta mengenal investasi yang legal dan terpercaya,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











