LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID– Di tengah maraknya produk makanan modern, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) emping melinjo di Kampung Pasir Cadas, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, tetap bertahan dan menjadi penopang ekonomi warga setempat.
Aktivitas produksi emping melinjo ini juga membuka ruang pemberdayaan bagi kaum perempuan.
Sejak belasan tahun lalu, Kampung Pasir Cadas dikenal sebagai sentra pengolahan emping melinjo.
Hampir di setiap halaman rumah warga berdiri saung-saung sederhana yang digunakan sebagai tempat produksi emping secara tradisional.
Proses pembuatan emping masih dilakukan secara manual, mulai dari mengupas biji melinjo, menyangrai dengan pasir panas, hingga menumbuknya satu per satu menggunakan palu besi.
Cara tradisional tersebut tetap dipertahankan karena diyakini mampu menjaga cita rasa khas emping Lebak.
Meski dikerjakan secara manual, produktivitas para perajin terbilang cukup tinggi.
Setiap hari, mereka mampu menghasilkan belasan hingga puluhan liter emping. Untuk setiap liter emping yang dihasilkan, buruh perajin memperoleh upah sekitar Rp6.000.
Salah satu pelaku usaha emping melinjo, Nurlaila (54), mengatakan usaha yang dirintisnya selama 25 tahun telah menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar.
“Usaha ini sudah 25 tahun, bukan turun-temurun, saya mulai sendiri. Sekarang ada empat karyawan, semuanya ibu-ibu dari kampung sekitar,” kata Nurlaila kepada RADARBANTEN.CO.ID, pada Kamis 5 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, dalam sehari dirinya mengolah sekitar satu kuintal melinjo. Namun, fluktuasi harga dan ketersediaan bahan baku menjadi tantangan utama.
“Sekarang harga emping per kilo Rp60.000, biasanya Rp45.000 sampai Rp50.000. Naik karena bahan baku melinjo juga naik,” ujarnya.
Bagi buruh perajin, usaha emping melinjo menjadi sumber pendapatan yang cukup membantu kebutuhan keluarga.
Nurhayati (39), yang telah bekerja selama delapan tahun, mengaku penghasilan dari membuat emping sangat berarti.
“Sehari bisa dapat sekitar 20 liter atau sekitar 4 kilo emping. Kalau dirupiahkan kira-kira Rp35.000 per hari,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sindangsari, Yudi, menyebutkan sekitar 20 rumah di wilayahnya masih aktif memproduksi emping melinjo.
“Kurang lebih sudah 15 tahunan pengrajin emping di sini bertahan, dan sampai sekarang masih terus berjalan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah mendorong penanaman melinjo agar pasokan bahan baku lebih stabil, mengingat emping Sindangsari telah menembus pasar nasional hingga mancanegara.
Reporter: Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











