KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Di tengah hiruk-pikuk aktivitas jual beli di Pasar Bandeng, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, aroma masakan rumahan dari sebuah lapak sederhana menjadi penanda kehidupan ekonomi kecil yang terus bergerak.
Dari dapur rumahnya, Yanti Cherry (55) membangun penghidupan dengan menjajakan aneka lauk pauk tradisional yang akrab di lidah masyarakat.
Berbekal keterampilan memasak dan ketekunan, Yanti mampu mempertahankan usahanya selama tiga tahun terakhir. Setiap hari, ia menjual beragam menu masakan rumahan seperti buntil daun singkong, buntil daun pepaya, opor, pepes ikan kembung, botok, pepes tahu, gudeg, soto, pesmol, hingga nasi bakar.
“Harganya saya buat terjangkau, mulai Rp5 ribu sampai Rp15 ribu, biar semua kalangan bisa beli,” ujar Yanti sambil melayani pembeli di lapaknya, Jumat 6 Februari 2025.
Rutinitas Yanti dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia sudah bangun untuk menyiapkan bahan dan memasak.
Setelah semuanya siap, masakan tersebut dibawa ke Pasar Bandeng untuk dijual kepada para pengunjung, terutama warga yang mencari lauk pauk dan sarapan pagi.
Meski harus bangun lebih awal dari kebanyakan orang, Yanti mengaku tidak pernah mengeluh. Baginya, memasak bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal.
“Capek pasti ada, tapi kalau dagangan habis rasanya senang. Alhamdulillah bisa buat kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Dari hasil berjualan, Yanti dapat meraup omzet sekitar Rp200 ribu hingga Rp600 ribu per hari, tergantung ramai atau tidaknya pembeli. Cita rasa masakan rumahan yang sederhana namun autentik menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan.
Kehadiran Yanti di Pasar Bandeng mencerminkan peran pelaku usaha kecil dalam menggerakkan roda ekonomi lokal. Dengan modal dapur rumah dan resep turun-temurun, UMKM kuliner seperti yang dijalani Yanti tetap mampu bertahan di tengah persaingan dan perubahan zaman.
Lapak sederhana tersebut bukan hanya tempat berjualan, tetapi juga bukti bahwa ekonomi kerakyatan terus hidup dari hal-hal paling dekat dengan keseharian masyarakat, yakni masakan rumahan.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agung S Pambudi











