CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Akademisi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Syaeful Bahri mengingatkan kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam agar tetap berpegang teguh pada nilai keislaman dan keindonesiaan pada momentum Milad HMI ke-79.
Syaeful Bahri menegaskan bahwa HMI sejak awal berdiri menjadikan keislaman dan keindonesiaan sebagai dua fondasi utama yang tidak dapat dipisahkan. Ia menyebut kedua nilai tersebut harus tercermin dalam sikap, tindakan, dan perilaku kader maupun alumni HMI di tengah masyarakat.
“Jadi aktivis HMI dan alumni dalam menjalankan aktivitas tidak boleh tercerabut dari keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa nilai keislaman dalam HMI bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu tidak bertentangan dengan akidah, tidak melanggar syariat, dan tetap berlandaskan akhlak. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut harus menjadi pijakan moral dalam setiap gerakan dan kritik sosial.
Sementara itu, Syaeful menekankan bahwa nilai keindonesiaan menuntut kader HMI untuk menunjukkan nasionalisme, patriotisme, serta kontribusi nyata bagi bangsa dan daerah. Ia menilai aktivisme mahasiswa seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan menimbulkan kegaduhan.
Sebagai mantan Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Kota Cilegon, Syaeful Bahri juga mendorong kader HMI untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ia menilai penguatan kajian dan ruang dialektika menjadi kunci dalam setiap aksi.
“Aksi itu harus berbasis kajian, bukan hanya emosi yang terprovokasi,” tegasnya.
Selain itu, ia menyinggung makna Hymne HMI yang mengandung semangat “Bahagia HMI”. Menurutnya, eksistensi HMI seharusnya membawa kebahagiaan dan solusi bagi masyarakat.
“Dengan siapa pun, kata kuncinya membahagiakan, bukan menyusahkan,” katanya.
Syaeful Bahri menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah dan lingkungan sosial tetap diperlukan sebagai bentuk kepedulian. Namun, ia menekankan bahwa kritik harus dilandasi rasa cinta, bukan kebencian.
“Kritik itu harus, karena itu bentuk sayang. Sayang pada pemerintah daerah dan lingkungan sosial,” ujarnya.
Ia berharap setiap aksi kader HMI dapat dipahami publik sebagai upaya membangun, bukan sekadar luapan emosi atau ekspresi kebencian.
Editor: Aas Arbi










