PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Minat warga Kabupaten Pandeglang untuk bekerja di luar negeri masih tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 15 ribu warga Pandeglang tercatat bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indonesia (TKI).
Kepala Disnakertrans Pandeglang Mohamad Kabir mengatakan, angka 15 ribu tersebut merupakan data dari BP3MI Banten yang diperoleh pihaknya.
“Sebetulnya pekerja migran Indonesia itu bukan sedikit. Hasil data dari BP3MI itu kurang lebih ada 15 ribu warga Pandeglang yang bekerja di luar negeri,” kata Mohamad Kabir kepada Radar Banten, Rabu 25 Februari 2026.
Menurutnya, mayoritas PMI asal Pandeglang bekerja di sektor informal seperti caregiver dan asisten rumah tangga (ART). Namun, ada juga yang bekerja di sektor formal, termasuk tenaga medis dan perusahaan lainnya.
Kabir menyebut, rata-rata terdapat 45 hingga 50 orang per bulan yang mengajukan permohonan untuk bekerja ke luar negeri.
Ia menegaskan, bekerja di luar negeri merupakan hak setiap individu dan dilindungi undang-undang. Meski begitu, pihaknya mengingatkan agar masyarakat menempuh jalur resmi.
“Kami mendukung, tapi semua yang berminat bekerja di luar negeri harus sesuai prosedur. Karena kalau nonprosedural dan terjadi masalah, akan sulit ditangani,” ujarnya.
Disnakertrans, lanjut Kabir, sempat menangani beberapa kasus PMI yang berangkat melalui jalur ilegal pada tahun lalu. Akibatnya, proses pemulangan pekerja menjadi rumit dan pemerintah daerah harus turun tangan.
“Bahkan untuk pulang pun susah. Beberapa kasus kemarin lewat jalur ilegal. Ujung-ujungnya tetap pemerintah daerah yang harus bertanggung jawab,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya mengimbau warga yang ingin menjadi PMI agar melalui jalur resmi dengan rekomendasi dari Disnakertrans.
“Kalau jalur resmi harus ada rekomendasi dari Disnakertrans,” tegasnya.
Selain itu, calon PMI kini juga diwajibkan memiliki sertifikasi kompetensi sesuai bidang pekerjaan. Sertifikasi tersebut dapat diperoleh melalui lembaga yang terakreditasi, termasuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Sekarang yang dituntut itu kompetensi. Jadi tidak cukup hanya ijazah sekolah, harus ada sertifikasi sesuai bidangnya,” jelasnya.
Kabir menambahkan, negara tujuan mayoritas PMI asal Pandeglang antara lain Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Sementara kantong PMI terbanyak berasal dari Kecamatan Sobang, Panimbang, dan Cikeusik.
Ia menilai tingginya minat bekerja ke luar negeri juga dipengaruhi testimoni keluarga atau rekan yang lebih dulu bekerja di luar negeri. Selain itu, faktor gaji menjadi daya tarik utama.
“Ada sponsor yang terdaftar resmi di kami. Gajinya memang cukup besar, ada yang sampai Rp18 juta sampai Rp20 juta per bulan seperti di Taiwan atau Singapura. Itu yang membuat banyak orang tertarik,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











