JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) menilai, kehadiran industri kemasan dalam negeri seperti Lamipak berpotensi memperkuat rantai pasok kemasan susu nasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Tim Pakar Bidang Susu BGN, Prof. Dr. Ir. Epi Taufik, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, selama ini kebutuhan kemasan susu, khususnya untuk produk UHT, masih didominasi impor.
Kehadiran Lamipak sebagai produsen lokal dinilai menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
“Kalau ada perusahaan yang bisa menyediakan kemasan dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik, serta harga lebih kompetitif karena diproduksi di dalam negeri, tentu ini akan sangat membantu industri susu nasional,” ujarnya saat ditemui RADARBANTEN.CO.ID di Jakarta, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan, program MBG akan mendorong peningkatan konsumsi susu secara signifikan. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan kemasan, terutama kemasan aseptik yang digunakan untuk distribusi susu dalam skala besar.
“Pasar susu akan naik, otomatis kebutuhan kemasan juga meningkat. Ini peluang besar bagi industri kemasan dalam negeri,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional tidak melakukan pembelian langsung maupun memberikan dukungan kepada merek tertentu. Seluruh pengadaan bahan pangan, termasuk susu, dilakukan oleh dapur penyedia di berbagai daerah.
“BGN tidak boleh mengarahkan pembelian ke perusahaan tertentu. Mekanisme tetap berjalan sesuai pasar,” tegasnya.
Dengan kondisi tersebut, ia optimistis pergeseran ke produk lokal dapat terjadi secara alami, terutama jika didukung kualitas yang baik dan harga yang lebih efisien dibanding produk impor.
Selain itu, faktor nilai tukar dan keterbatasan impor juga dinilai menjadi momentum bagi industri dalam negeri untuk berkembang.
“Kalau tidak perlu impor dan bisa menggunakan rupiah, tentu ini menjadi keunggulan tersendiri. Tinggal bagaimana industri lokal memanfaatkan peluang ini,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











