Setelah lebih dari satu tahun sejak dilantik, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Wakil Walikota Serang, Nur Agis Aulia. Agis dilantik 20 Februari 2025 dengan pasangannya Walikota Budi Rustandi.
Kami bertemu bukan dalam forum resmi. Tidak juga dalam agenda yang dirancang rapi. Kami bertemu di sebuah suasana yang cair—Fun Run ulang tahun Banten TV yang ke-16. Hari Minggu, 12 April 2026.
Ia datang sebagai pelari. Saya sebagai bagian dari penyelenggara.
Agis menuntaskan 5 kilometer dengan catatan waktu 30 menit 24 detik.
Angka itu mungkin tidak terlalu penting. Yang menarik justru kebiasaannya.
Ia memang rutin berlari. Setidaknya dua kali dalam seminggu. Bukan sekadar menjaga kebugaran. Ada tujuan yang sedang ia kejar. Dalam waktu dekat, ia bersiap mengikuti marathon 42 kilometer di Jakarta. Juga kategori half marathon 21 kilometer. Ini bukan lagi aktivitas santai. Ini soal keseriusan. Orang yang terbiasa berlari jauh, biasanya mengerti satu hal: tidak ada hasil besar yang datang dari langkah pendek. Garis akhir ternyata bukan akhir aktivitasnya.
Ia baru berhenti sebentar, sudah ada yang mendekat. Meminta foto. Disusul yang lain. Lalu yang lain lagi. Belum benar-benar duduk, ia sudah kembali berdiri. Belum selesai satu permintaan, datang permintaan berikutnya. Ia melayani. Tanpa banyak jeda.

Di sela-sela itu, kami sempat bertukar cerita. Singkat, tapi cukup menangkap arah pikirannya. Tentang Kota Serang. Tentang sebuah kota yang, bagi saya, seperti baru saja tersadar dari tidur panjang. Masih menata langkah, tapi sudah ingin bergerak cepat. Dan memang, perubahan itu mulai terasa. Kota Serang tidak lagi hanya membawa status sebagai ibukota Provinsi Banten. Mulai terlihat keinginan untuk menjadi kota yang benar-benar hidup. Kota yang menarik orang untuk datang, bukan sekadar dilewati.
Perubahan itu tidak berdiri sendiri. Di belakangnya, ada peran yang terus bekerja. Terlihat dan terasa dampaknya. Walikota Serang, Budi Rustandi. Ia memilih untuk terlibat langsung dalam proses itu. Tidak hanya menyusun rencana. Tapi memastikan pelaksanaannya berjalan.
Pengawasan dilakukan secara intens. Detail diperhatikan. Dalam beberapa hal, ketegasan juga diperlukan. Budi tegas. Terutama ketika berhadapan dengan pedagang kaki lima yang sulit ditata. Karena tanpa ketegasan, perubahan sering berhenti di tengah jalan.
Salah satu yang paling mencolok adalah kawasan Royal Baroe. Yang dulu dikenal sebagai Pasar Royal di Jalan S.A. Tirtayasa. Dulu padat. Kumuh. Kurang tertata. Sekarang tampil berbeda. Lebih rapi. Lebih bersih. Lebih nyaman. Lebih estetik. Instagramable. Seperti tempat wisata. Bukan hanya diperbaiki, tapi juga dijaga. Agar tidak kembali ke kondisi sebelumnya. Jalan Juhdi, yang berada dalam satu kawasan, ikut dibenahi. Diselaraskan dengan wajah baru Jalan S.A Tirtayasa.
Ini bukan pekerjaan yang selesai dalam sekali sentuh. Ini proses yang harus dijaga terus menerus. Karena menata itu satu hal. Menjaga agar tetap tertata, adalah tantangan berikutnya.
Di tengah perubahan itu, muncul satu gagasan yang menarik. Agis menyampaikan ingin menjadikan Kota Serang sebagai Kota Event. Sebuah upaya agar kota ini tidak hanya hidup karena aktivitas rutin. Tapi juga karena kegiatan yang sengaja dihadirkan. Bukan sekadar ramai sesaat. Tapi memiliki daya tarik yang berulang.
Gagasan ini relevan. Namun, menjadi Kota Event tidak cukup hanya dengan menambah agenda kegiatan. Yang dibutuhkan adalah kesiapan. Kota harus mulai bersiap sebagai tuan rumah. Yang mampu menyambut, bukan sekadar menerima. Ruang publik harus layak digunakan. Gedung pertemuan perlu memadai. Area terbuka harus bisa dimanfaatkan secara optimal. Akses menuju lokasi harus mudah. Ketersediaan parkir tidak boleh lagi menjadi persoalan. Karena satu pengalaman yang kurang nyaman, bisa membuat orang enggan kembali.
Di sisi lain, peran swasta menjadi penting. Kota tidak bisa bergerak sendiri. Hotel, pusat perbelanjaan, kafe, dan ruang kreatif dapat menjadi bagian dari ekosistem kegiatan. Event tidak harus selalu berlangsung di ruang milik pemerintah.
Media juga memegang peran strategis.
Mengangkat yang kecil agar terlihat. Membuat yang lokal memiliki jangkauan lebih luas. Dan kekuatan itu, sesungguhnya sudah dimiliki.
Namun pada akhirnya, wajah kota ditentukan oleh masyarakatnya.
Jika Serang ingin menjadi tujuan, warganya harus siap menjadi tuan rumah. Terbuka. Ramah. Siap melayani. Pelaku usaha kecil perlu berbenah. Tidak hanya menjual, tapi juga meningkatkan kualitas layanan. Karena pengunjung hari ini tidak sekadar membeli. Mereka mencari pengalaman. Mereka juga butuh cerita.
Peluang yang terbuka sangat besar. Ketika orang datang, mereka membawa pergerakan ekonomi. Usaha kecil tumbuh. Kerajinan kembali hidup. Anak muda memiliki ruang untuk berkarya. Seni dan budaya menemukan momentumnya kembali. Semua dapat bergerak bersama, jika dikelola dengan baik.
Namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan. Arah pembangunan. Jangan sampai pertumbuhan berjalan tanpa kendali. Bangunan berdiri tanpa perencanaan. Mepet jalan. Tanpa ruang parkir. Jika ini dibiarkan,
yang dibangun hari ini bisa menjadi persoalan di masa depan. Kota Event tidak hanya membutuhkan keramaian. Ia membutuhkan keteraturan.
Apa yang sedang dimulai hari ini, pada dasarnya sudah berada di jalur yang tepat. Ada yang bergerak. Ada yang mengawal. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah konsistensi. Karena membangun kota bukan pekerjaan singkat. Ini proses panjang. Seperti marathon. Butuh ketahanan. Butuh ritme. Dan yang paling penting—tidak berhenti di tengah jalan. (Mashudi)











