SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Rumah Sakit Budi Asih Serang menggelar simulasi penanganan bencana gempa bumi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan tenaga medis dan pegawai rumah sakit dalam menghadapi kondisi darurat.
Dalam simulasi tersebut, tenaga medis dan staf rumah sakit mempraktikkan prosedur evakuasi pasien sesuai tingkat kondisi masing-masing.
Pasien yang masih mampu berjalan dievakuasi lebih dahulu menuju titik kumpul dengan pendampingan petugas. Selanjutnya, pasien yang menggunakan kursi roda atau masih dalam kondisi sadar dipindahkan secara bertahap, sedangkan pasien yang masih berada di atas tempat tidur dievakuasi sesuai prosedur keselamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, mengapresiasi komitmen RS Budi Asih yang secara rutin memberikan pembekalan kebencanaan kepada seluruh pegawainya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Direktur RS Budi Asih yang sudah konsisten dan rutin membina pegawainya dalam hal kebencanaan. Sejauh ini baru RS Budi Asih yang rutin melaksanakan kegiatan seperti ini,” katanya, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Diat, mitigasi kebencanaan perlu diterapkan oleh seluruh institusi, baik pemerintah maupun swasta, terutama yang memiliki bangunan bertingkat atau gedung dengan aktivitas tinggi.
“Semua institusi perlu mitigasi kebencanaan, khususnya yang memiliki bangunan gedung. Kota Serang juga memiliki potensi bencana gempa yang cukup besar, sehingga kesiapsiagaan menjadi sangat penting, terutama di rumah sakit yang harus tetap memberikan pelayanan kepada pasien saat terjadi bencana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pelatihan tersebut peserta diperkenalkan dengan berbagai potensi bencana yang ada di Kota Serang.
“Untuk rumah sakit kami lebih fokus pada mitigasi gempa karena itu yang paling dibutuhkan, termasuk tata cara evakuasi pasien,” jelasnya.
Diat mengatakan, prinsip utama dalam pengurangan risiko bencana adalah mengenali ancaman yang ada.
“Dalam kebencanaan ada istilah, kenali bahayanya untuk mengurangi risikonya. Itu yang terus kami sampaikan kepada peserta,” ucapnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











