SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang memperkuat langkah mitigasi untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis dan penyakit infeksi baru.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor agar potensi penyebaran penyakit dapat diantisipasi sejak dini.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Serang, Hari W. Pamungkas, mengatakan pemerintah memilih mengedepankan langkah pencegahan dibandingkan penanganan setelah terjadi kasus.
“Ini yang kita persiapkan manajemen risikonya agar kita bisa fokus pada tindakan pencegahan (prevention) terlebih dahulu,” ujarnya, Sabtu 25 Juli 2026.
Hari menjelaskan, berdasarkan hasil pemetaan Dinas Kesehatan Kota Serang, secara umum tingkat risiko zoonosis di Kota Serang masih tergolong rendah.
Meski demikian, terdapat tiga kecamatan yang masuk kategori waspada sedang terhadap potensi penyebaran penyakit yang berkaitan dengan sektor unggas, yakni Kecamatan Kasemen, Walantaka, dan Kecamatan Serang.
“Hasil pemetaan dari Dinkes menunjukkan status kita umumnya rendah, namun ada status sedang yang perlu diwaspadai terkait unggas di tiga kecamatan tersebut,” katanya.
Menurut Hari, penguatan mitigasi dilakukan melalui Tim Koordinasi Daerah (Tikorda) yang melibatkan sekitar 15 organisasi perangkat daerah (OPD) bersama berbagai pemangku kepentingan.
Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Pemerintah Kota Serang dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui EPIC/USAID, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Kesehatan.
Ia menjelaskan, penanganan penyakit zoonosis dilakukan menggunakan pendekatan One Health, yaitu mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan agar pengendalian penyakit dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Konsep yang kita usung adalah One Health atau satu kesehatan, yang meliputi integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Hari menuturkan, penyakit zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular secara alami dari hewan vertebrata ke manusia maupun sebaliknya.
Selain itu, penyakit infeksi baru seperti MERS, COVID-19, flu burung (Avian Influenza), hingga antraks juga menjadi perhatian dalam upaya mitigasi bencana nonalam.
Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja, tetapi membutuhkan kolaborasi Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3), BPBD, serta perangkat daerah lainnya.
“Kita punya pengalaman saat penanganan COVID-19 lalu. Penguatan koordinasi ini penting agar manajemen dan mitigasi risiko dapat dilakukan sejak dini,” jelasnya.
Editor: Abdul Rozak











