slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Parlemen Opini

Membangun Jemaah, Merawat Madrasah dan Pesantren

Abdul Rozak by Abdul Rozak
29-03-2026 15:21:06
in Opini
Membangun Jemaah, Merawat Madrasah dan Pesantren

Ferdiyan, MA

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Oleh: Ferdiyan, MA.

Sebagai orang yang sejak kecil dididik di lingkungan madrasah, saya merasa cukup prihatin mendengar dan melihat sendiri ada beberapa madrasah, khususnya di kota Cilegon, yang mengalami degradasi yang cukup signifikan. Secara pragmatis degradasi ini saya persempit maknanya menjadi menurunnya minat masyarakat untuk mendidik anaknya di madrasah dan pesantren. Namun, menurut saya, fenomena ini belum bisa digeneralisasikan. Karena pada faktanya, madrasah dan pesantren lainnya cukup stabil dan justru mengalami peningkatan.

Baca Juga :

Insentif Guru Madrasah dan Guru Ngaji Cair, FKDT Kabupaten Serang Ucapkan Terima Kasih

Kemenag Pandeglang Catat 734 Lembaga Pendidikan, Sejumlah MA Terancam Tutup karena Minim Siswa

IKAMAH Menginspirasi, Siswa Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah Diberi Motivasi oleh Alumni

Cegah Anak Putus Sekolah, Farid Muhajirin Kawal Penyaluran PIP di Madrasah

Ada satu masalah yang umumnya ditemui di madrasah atau pesantren yang mengalami penurunan peserta didik, atau bahkan sampai gulung tikar. Alih-alih bergantung pada sebuah sistem pengelolahan lembaga yang kokoh, madrasah atau pesantren itu bertumpu pada sosok, ketokohan, dalam hal ini ialah Kiai. Manakala sosok Kiai yang menjadi sentral dalam lembaga tersebut sudah tiada, maka hilang pula daya tarik masyarakat. Sayangnya, Kiai sebagai tokoh sentral tersebut tidak bisa dengan mudah digantikan.

Madrasah dan Otoritas Keagamaan

Ada dua konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan komunitas Muslim, yaitu ‘umat’ dan ‘jamaah’. Dalam bukunya What is Religious Authority, Ismail Fajrie Alatas mengatakan bahwa dalam kehidupan Muslim sehari-hari, agama sebenarnya hidup di tingkat jamaah, bukan pada tingkat ‘umat’. Umat adalah komunitas global yang dibayangkan bersama. Ia bersifat abstrak, dan imajiner secara sosial. Sedangkan jamaah adalah komunitas yang konkrit. Orang-orang yang belajar bersama, mengikuti bimbingan seorang guru, dan berbagi praktik keagamaan tertentu. Di dalam jamaah itulah otoritas keagamaan bekerja, tradisi ditafsirkan, dan sunnah Nabi dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah pentingnya fungsi seorang Kiai dalam proses mengontruksi jamaah tersebut. Menurut Alatas, otoritas seorang pemimpin agama seharusnya lahir dari kerja artikulatif, yakni kemampuan untuk menjelaskan, menafsirkan, dan menghidupkan tradisi Islam secara bijaksana dalam konteks kehidupan masyarakat. Seorang Kiai tidak hanya mengutip ajaran agama, tetapi juga mengartikulasikan sunnah, memberikan teladan baik ucapan dan tindakan, serta menjembatani teks-teks keagamaan dengan persoalan konkrit yang dihadapi jamaahnya.

Masalahnya, dalam praktik sosial kita hari ini, banyak jamaah tidak dibangun melalui kerja-kerja artikulatif semacam itu. Sebaliknya, sebagian pemimpin agama justru membangun otoritasnya dengan logika kekuasaan politik. Sebagian pemimpin agama kita menggunakan dalil dan dalih agama justru untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tak tersentuh oleh jamaah. Seolah-olah, dengan pengetahuan agama yang ia miliki, ia berhak menjadi pusat dari semesta. Mereka merasa perlu didengarkan namun kesulitan mendengarkan suara terdalam dari orang lain. Mereka ingin selalu dihormati namun tak mampu memberikan penghormatan yang sama bagi orang lain. Mereka gagal menerjemahkan dengan bijaksana teks-teks keagamaan untuk menjawab persoalan masyarakat kontemporer. Pada posisi inilah pimpinan agama lambat laun akan kehilangan jamaahnya.

Jamaah bukanlah entitas yang stabil. Ia tidak mudah dibentuk, tetapi mudah retak. Loyalitas pengikut dapat menguat ketika kepercayaan terhadap pemimpin terjaga, tetapi dapat pula runtuh ketika kepercayaan itu terganggu. Jamaah tidak berdiri di atas struktur yang kokoh; ia berdiri di atas kepercayaan moral terhadap seorang pemimpinnya.

Jika madrasah dan pesantren ini dipahami sebagai bentuk jamaah, yakni komunitas yang terbentuk di sekitar otoritas seorang Kiai, maka menurunnya jumlah santri di beberapa tempat mungkin salah satu faktornya dapat dibaca sebagai melemahnya otoritas tersebut. Atau setidak-tidaknya, tidak mampu merawat dan mempertahankan jamaah yang telah dibangun oleh otoritas sebelumnya. Bukan berarti menghilangkan faktor-faktor lain seperti perubahan ekonomi dan aspirasi pendidikan, atau tidak meratanya distribusi logistik dari pemerintah terhadap lembaga pendidikan, namun nampaknya perlu dengan jujur juga melihat bahwa ada hal yang perlu dievaluasi dalam tubuh madrasah sendiri.

Kiai, Madrasah dan Pesantren

Dalam sebuah video yang cukup viral, mantan ketua umum PBNU, Kiai Sahal Mahfudh, ditanya oleh santrinya; apa sebenarnya makna Kiai dan siapa yang berhak disebut Kiai? Kiai Sahal mengatakan bahwa jaman dulu, Kiai adalah gelar yang disematkan kepada mereka yang ‘alim ‘alamah, memiliki akhlak yang baik, memiliki pengetahuan yang luas, paham syariat Islam secara  mendalam, dan mengamalkan ilmunya tersebut. Namun, menurutnya, sekarang Kiai tak lagi memiliki makna yang kuat. Siapa saja bisa dijuluki atau menjuluki dirinya sebagai Kiai. Hal ini didukung oleh desiminasi media sosial yang masif. Orang tanpa latar belakang agama yang jelas mendadak viral dan mendaku dirinya sebagai ustadz atau Kiai hanya karena menyitir satu dua ayat, seraya mengenakan sorban dan imamah yang besar.

Dalam dunia citra seperti saat ini, ada banyak orang yang lebih sibuk mengejar status dan pengaruh sebagai Kiai, tetapi lupa menjalankan fungsi artikulatifnya. Dengan itu mungkin mereka masih bisa mengumpulkan jamaah, mungkin juga tidak. Tetapi walaupun jamaah terbentuk, fondasinya akan sangat rapuh. Sebaliknya, ketika seorang Kiai sungguh-sungguh membimbing, menjelaskan, dan menghidupkan tradisi dengan kebijaksanaan, jamaah akan merasa memiliki kedalaman dan kepercayaan yang membuatnya bertahan. Tanpa kerja-kerja itu, jamaah sulit benar-benar dibangun. Pertanyaannya, apakah membangun otoritas keagamaan an sich dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap madrasah dan pesantren?

Jika kita mau sedikit saja mengamati, hampir semua madrasah dan pesantren yang maju memiliki dua faktor yang amat penting. Pertama, mereka masih memiliki figure pimpinan agama, dalam hal ini adalah Kiai, yang dianggap dan dipercaya masyarakat sebagai figure yang otoritatif karena kerja artikulatifnya. Tidak hanya sekadar mengajarkan kitab-kitab, tapi juga menjadi tauladan, dan mampu menunjukan upaya-upaya terbaiknya untuk mengembangkan jamaah dan membangun lembaga pendidikannya. Kedua, mereka memiliki sistem pendidikan yang ajeg dan teruji. Sistem yang saya maksud di sini bukan hanya sekadar kurikulum atau muatan materi yang diberikan, tapi seluruh ekosistem yang mendukung kegiatan pembelajaran tersebut. Contoh sederhana, sejauh mana sistem dalam lembaga pendidikan itu mengatur pola komunikasi antara pimpinan dan anggotanya, lebih jauh lagi bagaimana lembaga pendidikan mampu memproteksi hak-hak mendasar para gurunya. Sesederhana apresiasi atas sekecil apa pun capaian para tenaga pendidiknya. Dua faktor inilah yang biasanya menjadi sayap yang kokoh untuk menerbangkan madrasah dan pesantren.

Fachry Ali dalam bukunya yang berjudul Agama, Islam, dan Pembangunan menguatkan pentingnya dua faktor di atas. Sistem yang baik pada dasarnya harus responsive dan terbuka atas perubahan-perubahan yang terjadi. Termasuk juga terbuka menerima kenyataan bahwa lembaga pendidikannya memiliki berbagai kekurangan yang harus segera diperbaiki. Akan tetapi, Fachry Ali mengatakan bahwa seringkali madrasah dan pesantren memiliki sikap mekanisme bertahan (defense mechanism) yang cenderung apologetik. Seringkali madrasah dan pesantren ini dibayangi oleh romantisme kejayaan masa lalu dan dengan naif berharap kejayaan itu akan datang lagi dengan sendirinya tanpa usaha yang signifikan. Sikap apologetik semacam ini tidak pernah menyelesaikan masalah dan hanya mampu memberikan ketenangan psikologis sesaat. Kata Fachry Ali, sikap seperti ini hanya dapat mencekik dinamika dan pemikiran serta usaha-usaha kreatif untuk menjawab tantangan yang ada.

Jika saya disuruh memilih salah satu di antara dua faktor yang saya sebutkan di atas, saya akan memilih yang kedua. Saya percaya, meskipun tidak memiliki figur yang kuat, jika suatu lembaga pendidikan memiliki sistem yang jelas, terukur, dan konsisten, kepercayaan masyarakat akan tumbuh. Dalam sebuah ekosistem pendidikan yang baik, seorang figur akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya, dalam sebuah sistem yang buruk, orang-orang berpotensi pun akan menjadi kerdil. Yang paling celaka ialah, sudah tidak memiliki figur yang otoritatif, tidak juga memiliki sistem dan atau ekosistem yang baik. Maka nafas lembaga pendidikan Islam akan sangat pendek.

Penulis adalah peneliti pasca sarjana di Universitas Islam International Indonesia (UIII). Dosen di Sampoerna University. Sekjen pengurus pusat Ikatan Alumni Al-Khairiyah Karangtengah (IKAMAH).

Tags: gagasanmadrasahopinipesantrejpesantren
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Lelang Aset Perumdam TKR Dibuka, Penawaran Mulai 2 April 2026

Next Post

AHASS Siaga+ 2026 Sukses Melayani Konsumen Selama Arus Mudik dan Balik

Related Posts

Insentif Guru Madrasah dan Guru Ngaji Cair, FKDT Kabupaten Serang Ucapkan Terima Kasih
Berita Utama

Insentif Guru Madrasah dan Guru Ngaji Cair, FKDT Kabupaten Serang Ucapkan Terima Kasih

by Ahmad Rizal Ramdhani
Senin, 16 Maret 2026 21:43

SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Forum Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Serang mengucapkan terima kasih kepada Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah dan Wakil Bupati...

Read moreDetails

Kemenag Pandeglang Catat 734 Lembaga Pendidikan, Sejumlah MA Terancam Tutup karena Minim Siswa

IKAMAH Menginspirasi, Siswa Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah Diberi Motivasi oleh Alumni

Cegah Anak Putus Sekolah, Farid Muhajirin Kawal Penyaluran PIP di Madrasah

Krakatau Steel Group dan ISSC Dorong Standarisasi Konstruksi Baja untuk Pesantren Lewat Simposium Rancang Bangun

Olimpiade Madrasah Indonesia Nasional 2025 Resmi Digelar di Kota Tangerang

Rektor UIN Banten Muhammad Ishom Raih Penghargaan Santri of The Year 2025

Mengenal Tb Agus Khatibul Umam, Politisi Muda Golkar Pandeglang dari Kalangan Santri

Hadiri Apel HSN ke-10, Wagub Minta Santri Tak Boleh Merokok dan Galak kepada Kepala Sekolah

Pesantren, Lembaga Pendidikan Islam Tertua dan Pencetak Generasi Berkualitas

Next Post
AHASS Siaga+ 2026 Sukses Melayani Konsumen Selama Arus Mudik dan Balik

AHASS Siaga+ 2026 Sukses Melayani Konsumen Selama Arus Mudik dan Balik

Miris Siswi SMP Asal Lebak Diduga Dicabuli Tetangganya

Samsat Serang: Ayo Bangun Banten dengan Bayar Pajak

Samsat Serang: Ayo Bangun Banten dengan Bayar Pajak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

Kamis, 21 Mei 2026 09:34
Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

Kamis, 21 Mei 2026 09:23
Mantan Ketua PKS Banten Belum Kembalikan Uang Korupsi Pengadaan Minyak Goreng PT ABM

Mantan Ketua PKS Banten Belum Kembalikan Uang Korupsi Pengadaan Minyak Goreng PT ABM

Kamis, 21 Mei 2026 08:53
Terungkap! Nilai Dugaan Pungli Pertanahan Kota Serang Lebih Dari Rp 2 Miliar

Terungkap! Nilai Dugaan Pungli Pertanahan Kota Serang Lebih Dari Rp 2 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 08:39
Warga Cikeusal Digegerkan dengan Penemuan Mayat Pria Tanpa Identitas di Sungai Ciujung 

Warga Cikeusal Digegerkan dengan Penemuan Mayat Pria Tanpa Identitas di Sungai Ciujung 

Kamis, 21 Mei 2026 08:30
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Reformasi dan Suara Motor Kurir

Kamis, 21 Mei 2026 07:35
Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

Kamis, 21 Mei 2026 09:34
Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

Kamis, 21 Mei 2026 09:23
Mantan Ketua PKS Banten Belum Kembalikan Uang Korupsi Pengadaan Minyak Goreng PT ABM

Mantan Ketua PKS Banten Belum Kembalikan Uang Korupsi Pengadaan Minyak Goreng PT ABM

Kamis, 21 Mei 2026 08:53
Terungkap! Nilai Dugaan Pungli Pertanahan Kota Serang Lebih Dari Rp 2 Miliar

Terungkap! Nilai Dugaan Pungli Pertanahan Kota Serang Lebih Dari Rp 2 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 08:39
Warga Cikeusal Digegerkan dengan Penemuan Mayat Pria Tanpa Identitas di Sungai Ciujung 

Warga Cikeusal Digegerkan dengan Penemuan Mayat Pria Tanpa Identitas di Sungai Ciujung 

Kamis, 21 Mei 2026 08:30
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Reformasi dan Suara Motor Kurir

Kamis, 21 Mei 2026 07:35

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

Kasus Dugaan Suap PTSL Tangerang, Jimmy Lie Bantah Setor Uang ke Mantan Kades Kalibaru 

by Fahmi
Kamis, 21 Mei 2026 09:34

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - Jimmy Lie terdakwa kasus dugaan suap program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2022 senilai Rp 1,240...

Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

Wamendagri Apresiasi Langkah Efisiensi Wali Kota Serang 

by Nahrul Muhilmi
Kamis, 21 Mei 2026 09:23

SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Serang kembali melakukan penyisiran anggaran secara menyeluruh...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak