SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) memasuki usia ke-45 dengan memperkuat arah pengembangan kampus yang ramah lingkungan, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan Rektor Untirta Prof. Dr. Ir. H. Fatah Sulaiman dalam Sidang Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-45 Untirta, Kamis, 1 Oktober 2026. Mengusung tema “Sinergi Inovasi, Berdampak Nyata Membangun Negeri”, momentum tersebut menjadi refleksi perjalanan sekaligus pijakan Untirta dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi ke depan.
Fatah mengatakan, pembangunan lingkungan kampus tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur. Menurutnya, Untirta perlu membangun lingkungan pendidikan yang aman, sehat, nyaman, resik, dan indah atau ASRI bagi seluruh sivitas akademika.
“Diperkuat oleh kebijakan prioritas Pak Presiden, seluruh institusi harus menyiapkan kampus yang ASRI. Kampus Untirta yang healthy, aman, nyaman dengan segala konsekuensinya,” ujar Fatah.
Untuk mendukung lingkungan kampus yang nyaman, Untirta memperkuat sejumlah layanan pendukung, mulai dari satuan tugas antikekerasan, layanan konseling, ruang terbuka, hingga kantin khas kampus. Pengelolaan lingkungan juga diarahkan pada pemantauan kualitas udara dan efisiensi energi.
Untirta bahkan mulai menginisiasi pemanfaatan panel surya di area rooftop sebagai bagian dari upaya menghemat penggunaan energi listrik. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam memperkuat keberlanjutan lingkungan.
“Ke depan, perguruan tinggi harus semakin ramah lingkungan. Kita menginisiasi panel surya di atas rooftop sebagai penghematan energi listrik. Untirta juga diapresiasi sebagai salah satu perguruan tinggi paling ramah lingkungan di dunia,” katanya.
Selain lingkungan, Fatah menekankan pentingnya penguatan karakter sebagai bagian dari identitas Untirta. Nilai jawara yang terinspirasi dari sosok Sultan Ageng Tirtayasa, kata dia, diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi diterapkan oleh seluruh sivitas akademika dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Karakter jawara seperti yang dicontohkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mudah-mudahan value ini akan tetap diterapkan oleh seluruh jajaran muda. Tentu saja ini tidak mudah, karena banyak tantangan yang harus kita hadapi,” ungkapnya.
Memasuki periode keduanya sebagai rektor, Fatah mengatakan Untirta terus mendorong sejumlah target strategis, salah satunya penguatan infrastruktur dan integrasi layanan pendidikan. Persiapan untuk menjalankan berbagai target tersebut, menurutnya, telah mencapai sekitar 89 persen.
“Hampir nyaris 89 persen kita sudah siap. Mudah-mudahan satu tahun ke depan RS Pendidikan Untirta terwujud. Integrasi seluruh layanan terus ditingkatkan. Tantangannya tidak berat, tetapi karena kita bersama, tantangan itu bisa kita lewati,” tuturnya.
Sejumlah target lain yang didorong Untirta meliputi akreditasi internasional, peningkatan posisi dalam QS World University Rankings dan Times Higher Education, masuk lima besar perguruan tinggi berkelanjutan se-Indonesia versi UI GreenMetric, serta memiliki 100 guru besar.
Untirta juga menargetkan pembangunan dana abadi sebesar Rp500 miliar, mewujudkan status sebagai PTN-Badan Hukum, merealisasikan Rumah Sakit Pendidikan Untirta, serta memperkuat integritas akademik dan nonakademik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan.
Fatah mengatakan dana abadi menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat kemandirian pendanaan perguruan tinggi. Dengan sumber pembiayaan jangka panjang tersebut, universitas diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan AI menjadi tantangan yang harus diantisipasi perguruan tinggi. Menurut Fatah, derasnya arus informasi global dapat memengaruhi ketahanan budaya lokal. Sementara itu, perkembangan AI menuntut mahasiswa memiliki kemampuan kritis dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
“Sebagai jawara harus punya sisi cegah, karena AI mudah menyebar. Gambar orang bisa diedit dan dinarasikan palsu. Mahasiswa harus memiliki kemampuan kritis untuk memahami teknologi dan tanggung jawab dalam pemakaiannya,” jelas Fatah.
Menurutnya, perkembangan AI juga berpotensi mengubah kebutuhan dunia kerja karena sejumlah jenis pekerjaan dapat terdampak otomatisasi. Karena itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada lulusan siap kerja, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Fatah membagi arah pengembangan perguruan tinggi ke dalam tiga tipe, yakni teaching university yang berfokus pada kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, research university yang menitikberatkan pada penciptaan pengetahuan, serta innovation university yang mengubah hasil riset menjadi solusi nyata melalui teknologi, inkubator bisnis, kewirausahaan sosial, dan keterlibatan industri.
“Ke depan perguruan tinggi, termasuk Untirta, harus bisa menghubungkan ketiganya. Kita harus menghasilkan pertumbuhan inovasi yang berdampak nyata di kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Untuk mencapai arah tersebut, Fatah menekankan pentingnya kolaborasi seluruh sivitas akademika. Menurutnya, berbagai capaian Untirta selama ini bukan sekadar angka prestasi, melainkan hasil kerja bersama seluruh unsur universitas.
“Terima kasih atas kerja sama seluruh civitas akademika Untirta. Kita buktikan dengan bahu-membahu dapat melompat tinggi, berwibawa, ramah lingkungan, dan berjawara. Capaian kita bukan sekadar angka prestasi, tetapi bukti nyata bahwa bahu-membahu tidak ada halangan yang tak sanggup diruntuhkan,” pungkasnya.
Rangkaian Dies Natalis ke-45 Untirta berlangsung sejak 1 September hingga pertengahan Oktober 2026. Sidang Terbuka Senat menjadi salah satu agenda dalam rangkaian tersebut.
Reporter: Lydia Genrb
Editor: Mastur Huda











