Barang siapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tujuan ibadah puasa adalah meraih takwa (Qs Al-Baqarah [2]:183). Puasa sebagai prosedur meraih takwa telah teruji dalam sejarah agama-agama, sejak nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw. Dalam tradisi Islam, puasa Ramadan mulai diwajibkan kepada umat pada tanggal 10 Sya’ban, satu setengah tahun sesudah hijrah. Ketika itu, Nabi Muhammad saw baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Masjidilaqsha di Jerusalem) ke Kakbah di Masjidilharam (Makkah).
Ibnu Katsir mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari makan, minum, dan senggama, mulai dari terbit fajar shadiq sampai terbenam matahari (Qs Al-Baqarah [2]: 187), dengan niat ikhlas karena Allah Azza wa Jalla yang mengandung hikmah menyucikan jiwa dan membersihkannya dari perbuatan yang tercela dan akhlak yang buruk. Menahan diri berarti menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatan dari segala sesuatu yang dapat membatalkan dan atau mengurangi makna ibadah puasa.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa berarti menahan diri dari keserakahan seperti merampas, menggusur, dan korupsi atau menyuap hakim ketika berperkara di pengadilan. Puasa yang demikian itulah yang memungkinkan pelakunya meraih takwa.
Karakteristik insan takwa adalah selalu berzikir kepada Allah, apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambah iman mereka. Lalu, bertawakal hanya kepada Allah, disiplin menjalankan salat, dan senang berinfak. (Qs Al-Anfal [8]:2-3).
Lebih rinci pada lima ayat pertama surat Al-Baqarah disebutkan beberapa indikator insan takwa antara lain, beriman kepada yang gaib, rajin melaksanakan salat, senang berinfak, beriman kepada Alquran dan kitab-kitab Allah yang terdahulu, serta yakin kepada adanya akhirat. Insan bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia sesuai dengan moral Alquran dan teladan Rasulullah saw.
Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Muhammad Rasulullah saw, Beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran seraya mengutip surat Al-Mukmin [23] ayat 1-11. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”
Dapat disimpulkan bahwa puasa di bulan Ramadan tidak bisa dipisahkan dengan komitmen untuk menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Itulah hakikat takwa yang akan mengantarkan individu, masyarakat, bangsa, dan negara kita menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur yang penuh berkah.(*)

Dr Fadhlullah, dosen Untirta dan Sekretaris Komisi Dakwah MUI Banten









