SERANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Serang terus memantau status gizi pada balita untuk mengantisipasi dan mengurangi penderita malnutrisi semakin bertambah. Tak hanya itu, peran pemerintah dan masyarakat pun harus beriringan secara bersama-sama aktif menghadapi permasalahan tersebut.
“Kami harapkan peran aktif masyarakat bersama-sama, karena bagaimana pun tidak mungkin hanya dari satu sisi, harus semua sisi kompak. Pemantauan status gizi harus dioptimalkan. Walaupun sekarang (pemantauan) sebetulnya sudah tapi memang masih ada kendala-kendala di lapangan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Sri Nurhayati, Kamis (24/8).
Kata dia, pemantauan status gizi dilakukan melalui Posyandu, dimana bayi ditimbang setiap bulannya untuk mengetahui kondisi berat badan balita tersebut.
“Kalau memang semua tertimbang bagi balita, kalau ada yang turun segera diintervensi, apa sakit, apa kena lainnya. Banyak status lainnya, (orangtua) kena PHK yang tadinya mampu beli susu sekarang tidak. Bagaimana antisipasinya, kami belikan susunya,” paparnya.
Penderita gizi buruk itu, terangnya, ada penyakit penyerta. Bila ditemukan kasus ini agak sulit untuk kembali normal. Hal tersebut menjadi beban. “Ada 200 (balita) yang menderita gizi buruk, sebagian besar berpenyakit penyerta seperti mongoloid, meningitis, itu susah pulihnya,” tuturnya.
“Kami ada pengobatan pemulihan bagi penderita gizi buruk, pasti berubah, apalagi kalau orangtuanya nurut apa yang kami anjurkan seperti memberi PMP. Ini yang susah pulih, umpamanya sehari asupan gizinya 6 malah oleh orangtua dikasih 3. Terus susu harusnya full malah diencerin,” ujarnya.
Pihaknya terus memberikan pengertian pada masyarakat terkait masalah kesehatan anak khususnya gizi buruk, mengingat tidak mudah memberikan pemahanan dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com)










