SERANG – Santri dan ulama mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski identik dengan Al-Quran dan kitab-kitab salaf, pada masa penjajahan, santri tak segan-segan ikut berjuang, memegang senjata melawan penjajah.
Kyai Haji Ahmad Raodl Bahar menjelaskan, pondok pesantren di Indonesia sudah ada sejak abad ke-16. Menurutnya, sebelum NKRI ada bahkan sebelum adanya tentara penjajah, pondok pesantren sudah ada di bumi pertiwi.
“Dulu yang punya kegigihan mengusir penjajah yaitu ulama dan santri, karena geram melihat ganasnya penjajah yang ingin menguasai Indonesia, mengeruk sumber daya alam,” ujarnya setelah mengisi ceramah dalam acara Tabligh Akbar dan Istigasah di Ponpes Al Mubarok yang digelar oleh Forum Bela Santri (Forbest) Banten dan Yayasan Al Mubarok, Kamis (19/10).
Menurutnya, melihat dari fakta sejarah, santri dan ulama mempunyai jasa besar baik dalam proses kemerdekaan negara maupun dalam membangun masyarakat. Santri dan ulama memiliki keikhlasan dalam menularkan ilmu-ilmu, khususnya ilmu agama kepada masyarakat.
Senada dengan Kyai Haji Ahmad Raodl Bahar, Ketua Yayasan Ponpes Al Mubarok Kyai Haji Mahmudi menjelaskan, peranan santri dan ulama dalam kemerdekaan negara sudah tidak diragukan lagi. Catatan sejarah banyak menyebutkan seberapa besarnya peran santri dan ulama dalam mewujudkan kemerdekaan.
Karena itu, menurutnya, sudah sepatutnya pemerintah menaruh perhatian kepada pondok pesantren yang ada di Indonesia. “Pemerintah juga harus mendukung penuh kegiatan yang ada ponpes,” ujarnya.
Saat ini, kegiatan pondok pesantren tidak hanya sebatas mempelajari persoalan-persoalan agama, namun, disiplin ilmu lainnya pun dipelajari di pondok pesantren dengan memadukan kurikulum nasional dan kurikulum pondok pesantren.
Berkaitan Hari Santri Nasional yang akan jatuh pada 22 Oktober mendatang dan menjadi latar belakang kegiatan tabligh akbar dan istigasah tersebut, Mahmudi menjelaskan, pesantren merupakan bagian dari upaya untuk membela bangsa dan negara.
Sehingga, stigma pondok pesantren sebagai sarang teroris harus dihapuskan. “Justru pondok pesantren adalah korban (teroris),” katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Bela Santri Banten, Abdurrahman Boim mengatakan, santri dalam sejarahnya turut serta dalam perlawanan terhadap penjajah. “Kesannya santri selama ini hanya mengurus urusan agama saja. Padahal dahulu santri terlibat dalam urusan umum termasuk turut serta dalam perjuangan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan santri harus mendapat perhatian dari pemerintah sehingga santri mampu memberikan kemampuannya menjadi tulang punggung persatuan dan kesatuan bangsa menuju NKRI Jaya. “Selama ini ada kesan santri menjadi teroris. Padahal, santri korban teroris,” katanya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)










