CILEGON – Cuaca buruk sedang melanda perairan Selat Sunda sehingga membuat nelayan Kota Cilegon enggan melaut. Nelayan mengaku dilema. Antara tuntutan mencari kebutuhan hidup dan mempertahankan hidup dari ganasnya ombak saat ini.
“Sejak masuk awal Oktober ombak tinggi. Bisa mencapai 1,5 meter. Kadang, karena ini urusannya soal perut jadi tetap ada sebagian yang coba untuk berlayar,” ujar Ihsan, nelayan Mabak, Kecamatan Pulomerak, Kamis (26/10).
Meski demikian, Ihsan mengaku sesama nelayan lainnya lebih banyak yang memilih aman dari pada bertaruh nyawa berlayar di cuaca yang terbilang ekstrem. Mereka terpaksa alih profesi sampai cuaca kembali bersahabat.
“Ada yang mulung, ngojek, bagi yang ada modal berdagang. Tapi tetap jiwa nelayan akan kembali ke nelayan kalau ombak sudah tidak tinggi lagi,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon Wawan Hermawan mengaku memiliki program untuk nelayan saat terjadinya cuaca buruk di perairan. Program ini menyasar kepada isteri-isteri nelayan
“Dukungan kita untuk nelayan tangkap, kaitan cuaca tidak mendukung untuk menangkap ikan maka isterinya kita bina agar bisa berwirausaha. Dengan pelatihan membuat kerupuk ikan, bikin abon dan nugget yang bahan bakunya dari ikan,” tuturnya.
Melihat data yang ada, Wawan menyebut keberadaan nelayan di Kota Cilegon ada sekira 628 orang. Paling banyak di Kecamatan Pulomerak. Nelayan Kota Cilegon jauh lebih sedikit dibandingkan daerah-daerah lain.
“Karena Cilegon bukan sentra ikan. Ruang perairan juga sudah sangat terbatas. Tapi tetap kita bina untuk kehidupannya, ada juga bantuan kapal-kapal ketingting atau kapal kecil,” ucapnya. (Riko Budi Santoso/rikosabita@gmail.com)









