SERANG – Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah berjanji untuk segera memindahkan kegiatan belajar mengajar (KBM) SDN Sadah, Kecamatan Ciruas, ke sekolah terdekat untuk memberikan rasa nyaman bagi siswa. Saat ini siswa menumpang di madrasah diniyah yang kondisi gedungnya kurang layak.
Untuk kelancaran siswa, Pemkab menyediakan transportasi antar jemput siswa. “Setelah mendapatkan respons negatif dari media massa dan media sosial, saya selaku bupati harus menangani dengan cepat dan efektif. Kami segera memindahkan siswa SDN Sadah ke sekolah terdekat. Untuk transportasi, dinas terkait menyediakan kendaraan untuk antarjemput siswa,” tegas Tatu melalui pesan WhatsApp kepada Radar Banten, Jumat (1/12).
Bupati wanita pertama di Kabupaten Serang ini mengaku, sudah meninjau KBM siswa SDN Sadah pada 3 Februari 2017 jauh sebelum Gubernur Wahidin Halim meninjau ke lokasi pada Rabu (29/11). Saat itu Tatu didampingi pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) dan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Ciruas.
Tatu memantau situasi siswa yang menumpang belajar di madrasah diniyah dan memerintahkan dinas terkait segera membangun sekolah baru. “Sebelum Bapak Gubernur mengunjungi sekolah, saya selaku bupati sudah lebih dulu memantau dan melihat situasi yang dialami para siswa,” ungkap politikus Golkar itu.
Dijelaskan Tatu, siswa SDN Sadah menumpang belajar di madrasah diniyah karena masyarakat menolak pindah ke sekolah terdekat yang lebih layak. “Sekali lagi kami tidak diam dan sekolah madrasah diniyah itu juga bukan bekas kandang kerbau setelah staf saya mempertanyakan kepada Kades Kaserangan. Sementara, beberapa media mengatakan bekas kandang kerbau menurut statement yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Dijelaskan Tatu, sudah membuat detail engineering design (DED) untuk pembangunan gedung baru SDN Sadah. Awalnya, proses pembebasan lahan direncanakan tahun ini melalui APBD Perubahan 2017. Lahan yang dituju untuk dibebaskan sudah mendapatkan kajian tim appraisal.
Target lahan yang dibebaskan 4.447 meter persegi dengan anggaran mencapai Rp1,06 miliar. “Namun, pemilik lahan menawarkan harga tinggi sampai Rp500 ribu per meter persegi. Sementara, tim appraisal sudah menetapkan harga lahan dengan nilai tertinggi Rp255 ribu per meter persegi. Akhirnya, pembebasan lahan batal tahun ini,” jelasnya.
Meski demikian, Tatu mengaku, sudah mengusulkan agar anggaran untuk pembebasan lahan dan pembangunan gedung baru diluncurkan kembali tahun depan. “Insya Allah, SDN Sadah akan dibangun tahun depan,” tegas Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Banten itu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang Asep Nugrahajaya menambahkan, Bupati sudah memberikan perhatian khusus terhadap SDN Sadah serta memerintahkan dinas terkait untuk membangun gedung baru. “Tidak benar jika ada pemberitaan bahwa siswa menempati tempat bekas kandang kerbau,” bantah pria berkacamata itu menanggapi pemberitaan soal SDN Sadah sebelumnya.
Asep menegaskan, Pemkab sudah berusaha maksimal memprioritaskan pembangunan gedung baru untuk SDN Sadah. Mulai dari proses pengadaan lahan dengan langkah dan prosedur normatif seperti pembentukan panitia, pengukuran lahan, penaksiran harga oleh tim appraisal, konsultasi dengan TP4D Kejari Serang, hingga rembukan dengan pemilik lahan untuk kesepakatan harga. “Namun, di proses akhir kami menemui hambatan di pemilik lahan,” ujar penghobi gowes.
Asep menambahkan, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Tata Bangunan (DPKPTB) juga siap dengan perencanaan dan penganggaran pembangunan tahun depan jika proses pengadaan lahan berjalan mulus. Terkait nasib siswa yang belajar sementara di madrasah diniyah, pihaknya juga sudah melakukan pendekatan secara persuasif agar siswa sementara dititipkan di SD Sentul 2. “Tapi, masyarakat menolak digabung sementara. Mereka malah seakan berprasangka negatif dan seperti muncul resistansi atas kebijakan kita,” terang mantan sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) itu.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Serang Ubaidillah mengatakan, Pemkab sudah berupaya merelokasi sekolah dan membangun gedung baru. Bahkan, pihaknya selalu menganggarkan untuk relokasi SDN Sadah setiap tahun. “Anggarannya sudah ada. Tapi, bertahun-tahun begitu saja masyarakatnya (terus menaikkan harga lahan-red), enggak sesuai dengan harga yang ditetapkan tim appraisal. Jadi, gubernur jangan kecewa dulu. Lihat dulu akar permasalahannya,” tukasnya melalui sambungan telepon seluler, Jumat (1/12).
Jika dipaksakan mengikuti kemauan pemilik lahan menaikkan harga di atas penilaian tim appraisal, dikhawatirkan menjadi temuan. Apalagi, menurutnya saat ini proses pengadaan lahan yang salah selalu bermasalah dengan hukum.
Lebih lanjut, Ubaidillah mengatakan, upaya pembebasan lahan bisa saja diselesaikan melalui pengadilan. “Nanti pengadilan yang memutuskan harga karena harga yang ditawarkan pemilik lahan sekarang tidak sesuai dengan harga penilaian di lapangan,” ujar Wakil Rakyat asal Domas, Kecamatan Pontang itu.
Terkait ruang pembelajaran siswa, Ubaidillah mengaku, sudah mendorong Dindikbud segera mencari sekolah terdekat yang lebih nyaman untuk menumpang belajar sementara.
Sebelumnya, Gubernur Wahidin Halim meninjau KBM siswa SDN Sadah yang berlangsung di madrasah diniyah pada Rabu (29/11). Mereka pindah sementara ke madrasah diniyah itu karena gedung SDN Sadah akan direlokasi sebagai dampak proyek pembangunan Puspemkab Serang. Wahidin menilai, gedung madrasah yang ditempati siswa itu tidak layak. (Nizar S/RBG)










