SERANG – Tren jumlah lelaki suka lelaki (LSL) alias gay makin marak dan jumlahnya terus meningkat di Provinsi Banten. Mereka terus mencoba mengeksistensikan diri. Namun, ada sejumlah masalah yang membentur kelompok marginal ini, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) memerinci kelompok ini termasuk yang berisiko tinggi dalam penularan HIV AIDS.
Hingga kini berdasarkan data Komisi Penanggulangan HIV AIDS (KPA) Provinsi Banten sebanyak 2.175 orang tersebar di kabupaten kota Provinsi Banten. Padahal, gay salah satu faktor kunci penyebaran HIV AIDS.
Koordinator Program Pencegahan dan Penanggulangan pada KPA Provinsi Banten Jordan MA Jempormase mengatakan, saat ini tren LSL dan waria terus mengalami peningkatan signifikan. Jumlah LSL mencapai 2.175 orang dan waria 1.100 orang. “Jumlah LSL itu mengalami lonjakan angka yang cukup besar. Angka tersebut hasil dari tahun 2015. Tapi memang kita belum update lagi hasil penjangkauan,” ujarnya saat dihubungi Radar Banten, Kamis (28/12).
“Yang terbaru memang kita dapatkan dari Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang, tapi memang datanya belum bisa kita update. Angkanya lumayan signifikan,” paparnya.
Kata dia, ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang gay dan waria yaitu tren yang saat ini ramai di kalangan remaja, karena memang gay digembar-gemborkannya secara masif memanfaatkan berbagai teknologi, selanjutnya persoalan ekonomi kendati memang jika dipersentasekan jumlahnya relatif sedikit dan terkondisikan dari lingkungan yang ada, seperti lingkungan kerja, pertemanan, dan lain-lain. “Untuk jumlah LSL (gay-red) dan waria berusia 16-17 tahun tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan usia 18-35 tahun,” katanya.
“Langkah antisipasi dari KPA Banten. Kita lebih pada penguatan agar tidak ada penyebaran atau penularan kasus HIV AIDS baru,” tambah pria yang akrab disapa Jordan itu.
Berdasarkan data, dari penularan kasus HIV berjumlah 3.526 kasus dan AIDS 1.871 kasus dengan kematian 355 kasus orang. Dari data tersebut kelompok umur 20-39 tahun adalah yang mendominasi penularan HIV AIDS atau 80 persen. Sedangkan faktor penyebaran virus ganas ini, selain hubungan seks bebas dan penggunaan narkoba suntik juga disebabkan oleh gay.
Sekretaris KPA Provinsi Banten Encep Mukardi menyatakan, salah satu penyumbang angka tersebut lantaran perilaku seks yang menyimpang, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual. “Sejak 2016 terjadi pergeseran modus penularan dari yang sebelumnya melalui jarum suntik narkoba dan perilaku homoseksual, menjadi penularan melalui hubungan heteroseksual,” katanya.
“Jadi, seperti penularan dari suami kepada istrinya. Tercatat pada 2017 ini ada sebanyak 600 ibu rumah tangga yang tertular virus AIDS dari 1.891 kasus,” tandasnya.
Sementara itu, Koordinator Admin KPA Kabupaten Tangerang Eko Darmawan menjelaskan ada stereotip yang berkata bahwa jika Anda gay, pindahlah ke kota besar dimana Anda dapat menjalani kehidupan yang terbuka dan bebas dan lingkungan dapat menerima cara hidup gay. Tapi hal itu tidak selamanya benar.
Berdasarkan data KPA Kabupaten Tangerang, jumlah LSL Kabupaten Tangerang waria sebanyak 319 dan laki suka laki sebanyak 669 orang. Ini tersebar di 29 kecamatan di wilayah itu. Sejumlah kecamatan dengan LSL paling tinggi berada di Kecamatan Legok, Tigaraksa, Balaraja, Sukamulya, Pasarkemis, Cikupa, dan Kelapa Dua. ”Mereka (LSL-red) yang mengidap HIV AIDS tetap kita hormati sebagai pasien umum lainnya,” ujar Eko.
Jumlah LSL ini melampaui jumlah waria yang saat ini berjumlah ratusan orang. Dari segi penampilan, para LSL lebih mudah dapat pasangan ketimbang waria. Sosok para LSL ini lebih modis dan berpendidikan. “Ini fenomena gunung es, tapi kita tidak ingin ada justifikasi Mas kepada mereka,” kata Eko.
KPA terus memantau dan melakukan pencegahan untuk menanggulangi penyebaran HIV AIDS melalui LSL ini. KPA menduga tren LSL ini terjadi karena beberapa faktor. Mulai dari masalah disorientasi sosial, bullying, dan trauma di masa kecil.
Eko mengatakan, sempat melakukan penelusuran dan masuk ke komunitas gay di Tangerang untuk mengetahui mengapa tren LSL ini mengalami peningkatan. Banyak kalangan LSL, kata dia, mengaku memilih orientasi ini karena trauma dan alasan kebutuhan ekonomi. “Ternyata pelakunya bukan hanya kalangan remaja. Pria dewasa yang menikah dan mempunyai anak juga banyak,” tandasnya.
Ketua KPA Kota Serang Mulyana mengaku, sejak akhir 2007 sampai November kemarin, ia mengungkapkan ada 192 kasus AIDS dan 125 kasus HIV di Kota Serang. “Dengan jumlah kematian 66 orang,” ujarnya.
Kata dia, meskipun belum mengetahui secara pasti data pelaku homoseksual yang ada di Kota Serang, tapi ia meyakini komunitas itu ada. “Karena gelagatnya sudah ada,” tutur Mulyana. Untuk itu, pihaknya selalu menyosialisasikan penyebab HIV dan AIDS kepada masyarakat.
Sementara di Kota Cilegon kaum gay atau homoseksual menjadi penyumbang tingginya masyarakat yang terkena virus HIV AIDS. “Dari jumlah kasus HIV AIDS 2017 ini ada 62 kasus. Kaum LSL ini turut menyumbang dengan 29 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon dr Arriadna.
Berdasarkan penelusuran di media sosial, ternyata di Kota Baja komunitas gay juga telah ada. Di sejumlah akun media sosial komunitas gay telah membuat akun di Facebook dengan nama Gay Cilegon. Tidak hanya itu, sejumlah nama yang terang-terangan mengaku dirinya gay juga ada di dalam akun Facebook di antaranya dengan nama akun Gay Andee Cilegon dan Jerry Gay Cilegon. (Fauzan D-Togar H-Rostinah-Umam/RBG)









