SERANG – Harga beras di sejumlah pasar tradisional terus melonjak naik sejak akhir 2017 hingga awal tahun ini. Pemprov diminta segera mengecek pasokan beras pada distributor dan gudang pedagang besar untuk memastikan tidak ada penimbunan beras.
“Gubernur harus memastikan ketersediaan sembako yang melonjak naik dan mestinya melakukan langkah konkret untuk mengurangi beban masyarakat,” kata Ketua Fraksi PKS DPRD Banten Sanuji Pentamarta melalui pernyataan resminya yang diterima Radar Banten, Minggu (14/1).
Kata dia, perlu ada pernyataan resmi terkait kenaikan harga kebutuhan pokok dan segera melakukan operasi pasar besar-besaran. Sebab ini masalah serius yang menyangkut hajat hidup orang banyak. “Kebutuhan ini paling dirasakan oleh masyarakat lapisan bawah,” katanya.
Sanuji juga menyarankan Pemprov mengecek dan membuka gudang-gudang beras milik pedagang besar. “Jangan sampai ada bandar atau pemain besar nakal yang menyimpan beras sehingga harga beras naik,” katanya.
Pantauan Radar Banten di Pasar Induk Rau Kota Serang, kenaikan beras berkisar antara Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram. Tidak hanya beras kelas premium, kenaikan juga terjadi pada beras medium.
Penjual beras di Pasar Induk Rau Kota Serang Maftuhi mengaku tidak tahu alasan kenaikan beras. Sebab, pasokan beras selama ini biasa saja dari bulan-bulan sebelumnya. “Pastinya naik sejak mulud. Waktu itu masih mending, nah habis mulud ini mulai loncat lagi,” katanya ditemui di lokasi, Minggu (14/1).
Ia mengungkapkan, harga beras biasa naik Rp2.000 per kilogram. Dari harga Rp8.000 menjadi Rp10 ribu sedangkan untuk beras yang bagus naik dari harga Rp10 ribu menjadi Rp13.500. “Ada yang lebih murah, orang sini (Serang-red) bilangnya beras kondangan, awalnya Rp6.500 sekarang Rp9.000 per kilo,” katanya.
Selain itu, beras karungan dengan berat 25 kilogram juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga beras yang dikemas dengan aneka merek ini mengalami kenaikan hingga Rp50 ribu lebih per karung. Untuk beras dengan kualitas sedang mengalami kenaikan dari harga Rp225 ribu per karung menjadi Rp265 ribu. “Kalau beras premium yang 20 kilogram dari Rp220 ribu menjadi Rp260 ribu,” ungkapnya.
Maftuhi mengaku, kenaikan beras tidak memengaruhi omzet per hari. Namun, banyak pembeli yang komplain karena harga terus naik. “Namanya milik (omzet-red) ya ada saja, cuma penginnya tetap stabil, soalnya harga naik banyak dikeluhkan pembeli. Kadang marah dijual segitu kemarin enggak segitu,” katanya menirukan pelanggan yang protes.
Pria paruh baya ini mengaku, mendapat pasokan beras dari berbagai daerah. Mulai dari beras lokal Banten sampai beras dari luar seperti Cianjur, Indramayu, dan Karawang. “Sehari paling juga laku tiga kuintal. Kalau partai besar mah bisa berton-ton,” ujarnya.
Senada dikatakan Muksin yang juga menjual beras di Pasar Induk Rau. Kata dia, beras naik sejak Desember tahun lalu. “Harganya bikin pusing enggak menentu. Cuma enggak tahu penyebabnya,” katanya.
Muksin mengaku, menjual beras kualitas bagus dengan harga Rp12.500 per kilogram dari harga sebelumnya Rp10.700 per kilogram. Ia sempat menanyakan alasan kenaikan beras kepada distributor. Dari penjelasan distributor bahwa pemicu kenaikan beras karena harga gabah kering mengalami kenaikan. “Kata distributor harganya (gabah kering-red) naik Rp6.000 lebih per kilogram, kadang sampai Rp6.500,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso saat dikonfirmasi membenarkan kenaikan harga beras. “Sejak Tahun Baru sudah ada kenaikan tapi tingginya baru seminggu ini,” katanya.
Menurutnya, kenaikan karena permintaan tinggi, sementara pasokan beras terbatas. “Idealnya 100 ribu ton per bulan, tapi yang sekarang di gudang susah pada enggak ada. Yang ada di Bulog itu cadangan yang dikeluarkan lewat OP (operasi pasar-red),” katanya.
Babar mengatakan, langkah jangka pendek yang dilakukan dengan melakukan OP. Satu pasar, pihaknya melalui Bulog mengeluarkan beras satu ton. “OP sampai harga normal. Kalau jangka panjang harus ada siklus panen karena ini mahal sejak di sawah,” ujarnya.
Terkait desakan agar melakukan pengecekan terhadap gudang diatributor dan pedagang besar, Babar mengatakan, di Banten tidak ada gudang besar. “Kalau pedagang besar di kita eggak ada, kalau di kita adanya agen. Kalau gudang distributor ada di Jakarta,” katanya.
Namun demikian, pengawasan tetap dilakukan melalui Satgas Pangan. “Tugas itu dilakukan Satgas Pangan, mereka sudah melaksanakan pengawasan langsung dari distributor dan pedagang. Tapi dari laporan, belum ada temukan (pedagang nakal-red),” ujar Babar. (Supriyono/RBG)










