PANDEGLANG – Air laut di Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, berubah warna menjadi hitam karena tercemar batu bara yang tumpah dari kapal tongkang Camar Laut 3303 milik PT Bahtera Adhiguna (BAG), Kamis (11/1) malam. Rencananya, batu bara itu akan dikirim ke PLTU 2 Labuan.
“Pantai keruh dan dipenuhi batu bara. Berenang juga enggak nyaman,” kata seorang pengunjung asal Kota Serang Usep Saepudin yang ditemui di Pantai Carita, Minggu (14/1) siang.
Usep berharap, Pantai Carita segera dibersihkan agar pengunjung nyaman saat berlibur. “Kami harap pantai ini bersih sehingga kami puas dan nyaman saat berlibur ke sini,” katanya.
Security Hotel Lippo Carita Sapri memastikan, tercemarnya air laut di kawasan Pantai Carita akibat kapal tongkang pengangkut batu bara menuju PLTU 2 Labuan kandas diterjang angin kencang pada Kamis (11/1) malam. Hingga kemarin (14/1), air laut masih hitam meski tidak separah dua hari sebelumnya. “Batu bara ini tumpah dari tongkang pada malam hari. Soalnya Jumat (12/1) pagi pantai sudah dipenuhi batu bara,” katanya.
Menurut Sapri, tercemarnya air laut ini oleh batu bara membuat kewalahan petugas kebersihan di Hotel Lippo Carita. “Sudah kami bersihkan di pesisir pantai tetapi masih banyak saja, seperti tidak habis-habisnya,” katanya.
Dihubungi melalui telepon seluler Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pandeglang Widi Widiasmanto meminta, PT Indonesia Power (IP) PLTU 2 Labuan bertanggung jawab atas pencemaran batu bara di Pantai Carita. “Kami harap pihak perusahaan dapat bertanggung jawab. Selain itu juga harus ada penyelidikan dari pihak berwajib (polisi-red),” katanya.
General Manager (GM) PT IP PLTU 2 Labuan Juhdi Rahmanto tak membantah batu bara yang dikirim oleh PT BAG kandas akibat diterjang angin kencang dan mencemari air laut di pantai Carita.
Juhdi bejanji akan mengoordinasikan dengan PT BAG selaku pengirim batu bara agar bertanggung jawab dan membersihkan Pantai Carita. “Benar akibat tongkang kandas diterjang angin. Tetapi akan kami koordinasikan dengan pihak (PT BAG-red),” katanya.
Juhdi mengaku, belum melakukan penghitungan kekurangan batu bara yang diterimanya akibat tumpah berserakan di Pantai Carita. “Kita juga belum menghitung berapa kekurangan batu bara ini,” katanya.
Meski air laut dipenuhi batu bara, tetapi tidak berdampak pada habitat ikan di laut. Tidak ditemukan, ada ikan yang mati. Sementara warga yang berenang pun tidak merasakan dampak negatif berupa gatal-gatal dari tumpahan batu bara.
Hal senada disampaikan Maryamah, pedagang jajanan di Pantai Carita. Ia mengeluhkan tercemarnya air laut karena berdampak pada menurunnya jumlah pembeli akibat warga enggan berlibur. “Pengunjung sepi setelah pantai kotor akibat batu bara. Pendapatan kami mengandalkan dari tamu (wisatawan-red),” ungkapnya.
Sementara itu, Sohari, seorang nelayan warga setempat juga mengatakan hal sama. Ia kesulitan menangkap ikan di Carita dengan menggunakan alat tangkap jaring. “Setelah banyak batu bara di kawasan ini, kami kesulitan menangkap ikan di kawasan pantai ini,” katanya.
Kepala Satuan (Kasat) Polisi Air (Polair) Polres Pandeglang AKP Trisno Rianto meminta perusahaan pengirim batu bara bertanggung jawab membersihkan batu bara yang berserakan di Pantai Carita. “Saya sudah koordinasi dengan Syahbandar Labuan agar pihak transportir batu bara melakukan pembersihan Pantai Carita,” katanya.
Trisno memprediksi, pencemaran batu bara itu tidak berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan manusia. “Memang batu bara ini, secara kesehatan tidak ada masalah bagi ikan maupun terhadap pengunjung di Pantai Carita, khususnya yang berenang. Namun, pantai kotor saja,” katanya. (Herman/RBG)









