Semua berawal ketika Kupret (43), nama samaran, memutuskan untuk menikah dengan Lala (40), bukan nama sebenarnya. Meski status sosial kedua keluarga sama-sama sederhana, ternyata hal itu juga bisa membuat hubungan mereka tak semulus sutra.
Kisah rumah tangga keduanya sempat mengalami fase kritis lantaran masalah utang. Peristiwa itu terjadi ketika Lala berusia 25 tahun dan Kupret 28 tahun. Seperti diceritakan Lala, sebenarnya keluarga Kupret tidak pernah menyetujui pernikahan mereka. Loh, memang kenapa, Teh?
“Awalnya sih baik, tapi setelah ada omongan dari bibi saya yang bilang keluarga Kang Kupret keluarga enggak mampu, ya sudah deh mereka enggak terima,” terang Lala kepada Radar Banten.
Bahkan, sebelum ditetapkan tanggal pernikahan, sempat terjadi keributan. Namun karena Kupret anak bungsu dari lima bersaudara yang punya sikap keras kepala, akhirnya meski terkesan terpaksa, pernikahan berlangsung juga.
Lala mengaku, Kupret memang termasuk lelaki tampan dengan gaya sok elegan ala-ala orang kaya. Sikapnya yang mudah bergaul dan menerima teman apa adanya, membuat Kupret diterima hangat oleh masyarakat.
Tapi ya namanya juga manusia, tentu Kupret tidak sempurna. Selain sikapnya yang keras kepala, Kupret juga hobi taruhan. Mulai dari taruhan bola, sampai pertaruhan ayam aduan yang memakan biaya berjuta-juta. Oalah.
“Sebelum nikah sih dia bilangnya bakal taubat dan enggak taruhan lagi. Tapi, ya pas sudah nikah mah tetap saja begitu,” curhat Lala.
Lala sendiri bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, ia dianugerahi wajah cantik memesona. Dengan sikapnya yang lembut dan ramah kepada setiap orang, Lala banyak diperebutkan pria. Jangan salah, katanya, setiap menjelang musim nikah, ada saja lelaki yang datang ke rumah. Widih, masa sih Teh?
“Duh, Kang. Kenapa saya sama Kang Kupret nikah muda tuh karena ya masalah itu. Dia takut saya digaet lelaki lain,” curhatnya.
Singkat cerita, di awal pernikahan, Kupret sempat meninggalkan kebiasaan buruk taruhan dan bekerja di pabrik. Walau masih sederhana, mereka hidup bahagia. Ya, saat itu sih keadaan masih aman. Untuk makan sehari-hari masih bisa teratasi.
“Waktu itu Kang Kupret memang janji buat kerja keras supaya bisa hidup mandiri,” kenang Lala.
Setahun menjalani bahtera rumah tangga, lahirlah anak pertama, membuat Kupret dan Lala semakin mesra. Hubungan mereka begitu harmonis. Bahkan, seminggu sekali mereka jalan-jalan bersama anak tercinta, memberi hiburan agar Lala tidak bosan di rumah.
Hingga suatu hari cobaan datang menerjang. Kebahagiaan sirna saat Kupret dipecat dari tempatnya bekerja. Apa mau dikata, akhirnya ia menganggur dan mulai sulit mencari nafkah. Tiga bulan pasca pemecatan sih masih aman karena ada uang tabungan, tapi setelah empat bulan kemudian, mulailah ia merasa kesulitan.
Parahnya, seolah memanfaatkan banyaknya teman, ia malah terus mencari peruntungan lewat perjudian dengan cara berutang. Hampir semua teman yang terlihat mapan meminjaminya uang. Dengan jumlah nominal yang lumayan, lama-kelamaan utang menumpuk memperparah keadaan.
Akibatnya, hampir setiap hari Kupret didatangi orang tak dikenal. Ketika ditanya, orang itu mengaku, disuruh salah satu teman Kupret untuk menagih utang. Katanya, mereka tak enak kalau meminta langsung. Apalah daya, pusing dan tak nyaman menjalani keseharian, Kupret banyak mengurung diri di kamar. Ya ampun, ngeri juga ya!
“Duh, Kang. Sumpah deritanya punya utang itu nyiksa banget. Mending yang nagih itu pakai cara baik-baik, ini mah ada yang membentak, menghina,” tutur Lala.
Sampai suatu malam, dengan kegelisahan yang menekannya, Lala mengaku tak bisa berpikir jernih. Atas saran seorang teman, demi kebaikan dirinya bersama sang anak, ia harus pergi dari rumah. Tanpa memberi kabar kepada Kupret, Lala diam-diam kabur dan tinggal beberapa hari di rumah temannya.
Sontak Kupret pun kelabakan mencari sang istri tercinta. Sampai tiga hari, entah dapat kabar dari mana, Kupret berhasil menemukan Lala. Anehnya, seolah mengerti akan apa yang dirasakan sang istri, Kupret tak sedikit pun memarahi, ia lekas meminta Lala pulang dan menghadapi masalah bersama.
Namun, tamu-tamu tak dikenal terus berdatangan. Mulai dari menitipkan omongan jelek ke tetangga sampai mengirim surat berisi ancaman, jelas membuat Lala tak nyaman. Untuk kedua kalinya, ia pergi dari rumah. Namun, kali ini entah karena malas mencari atau tak peduli, seminggu lebih tak ada tanda-tanda Kupret mencarinya. Lala pun pulang ke rumah orangtua. Duh, ini kok kayak main kucing-kucingan ya, Teh?
“Iya, Kang. Waktu itu pokoknya saya sering kabur-kaburan. Enggak betah di rumah, takut ada kejadian macam-macam,” curhat Lala.
Sebulan kemudian, dengan dukungan orangtua dan keluarga yang selalu menemani, membuat Lala mulai terbiasa hidup tanpa kehadiran Kupret. Namun, Tuhan tampaknya tak membiarkan mereka terpisah terlalu lama. Malam itu saat Lala baru saja menidurkan anaknya, terdengar pintu rumah diketuk dari luar.
Tak lama kemudian ayahnya datang, meminta Lala keluar. Kupret tampak kelelahan duduk di ruang depan. Meski tampak raut kesal di wajah ayah dan ibunya, mereka tak menghalangi Lala bertemu sang suami. Setelah membicarakan hubungan mereka, entah termakan bujuk rayu atau mungkin masih cinta, keesokan harinya Lala bersedia diajak pergi Kupret bersama anaknya. Aih, pergi ke mana, Teh?
“Kita pergi ke Bandung, Kang. Di sana saya dan suami tinggal tiga tahunan. Kang Kupret kerja di tempat temannya. Alhamdulillah, sekarang bisa balik lagi ke Serang tanpa beban. Ya meski belum lunas semua, sedikit demi sedikit utangnya bisa terbayar,” kata Lala.
Oalah, ya semoga utangnya segera lunas dan langgeng selamanya. Amin! (daru-zetizen/zee/dwi)











