Musim kemarau menyebabkan kekeringan makin meluas di Kabupaten Serang. Kecamatan Tanara, salah satunya. Warga pun mengatur strategi memakai air bersih.
ADI MULYADI – SERANG
MENDUNG belum tentu hujan. Seperti cuaca di wilayah Kecamatan Tanara, Rabu (19/9). Warga Kampung Pesisir, RT 04 RW 02, Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, berharap besar adanya hujan karena sepanjang hari kemarin Tanara diselimuti mendung. Namun sayang, kenyataannya berbeda. Ternyata di wilayah itu hanya sebatas mendung dan gerimis kecil dengan durasi sangat singkat.
Musim kemarau ini, Kampung Pesisir mengalami kekeringan. Saat ini, warga hanya mengandalkan bantuan air bersih dari Serang. Saat bantuan datang, senyum warga langsung pecah.
Radar Banten kemarin menyaksikan hal itu saat menyambangi kampung itu pukul 12.15 WIB. Untuk sampai ke lokasi tersebut tidak sulit. Sekira dua kilometer dari kantor Kecamatan Tanara, tepat di belakang terminal Tanara.
Kebetulan kemarin, ada mobil tangki yang membawa air bersih 5.000 liter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang ke Kampung Pesisir. Mobil itu tepat berhenti di depan warung Muniah (40). Sudah tersedia lima drum besar untuk menampung air bersih dari mobil tangki warna orange itu. Warga sekitar langsung berkumpul sambil membawa penampung air baik kompan maupun ember untuk mengambil air bersih. Senyum warga pun langsung pecah.
Muniah (40), warga setempat mengatakan, biasanya warga Kampung Pesisir mendapatkan air bersih dengan membeli di warung sebanyak satu galon. Untuk harga per galon Rp5 ribu. “Kalau untuk mandi dan mencuci biasanya menggunakan sumur odok-odok yang kondisinya anta dan asin,” katanya kepada Radar Banten sambil menggendong anak.
Ketika ditanya soal perbedaan sumur bor dengan sumur odok-odok, kata Muniah, berbeda. Kedalaman sumur odok-odok maksimal 12 meter. Sementara kedalaman sumur bor minimal 30 meter. Pengerjaan sumur odok-odok hanya menggunakan beberapa batang besi yang ditancapkan ke dalam tanah ketika air sudah keluar baru diganti dengan pipa yang berukuran kecil. “Lamun upah gawe sumur kuen cuma telungatus ewu (upah membuat sumur itu tiga ratus ribu rupiah-red),” kata ibu pemilik warung. Selama ini warga memang mengandalkan sumur odok-odok. Dari sumur odok-odok itu, warga bisa mandi dan mencuci.
Ia mengungkapkan, kemarau panjang sudah dirasakan warga Kampung Pesisir hampir lima bulan terakhir. Hujan membasahi tanah di kampung itu, saat Hari Raya Idul Fitri lalu. Itu pun hanya sekali saja. Sementara sampai kemarin belum turun hujan lagi.
“Lamun (kalau-red) bantuan air bersih di tempat, selama kemarau baru kali ini dirasakan oleh kita,” tukasnya.
Muniah berharap, pemerintah dapat mendistribusikan air bersih kembali karena masih banyak warga yang belum mendapatkannya. Nah, warga yang belum mendapatkan air bersih itu terpaksa harus membeli air isi ulang.
Pada saat pendistribusian air bersih, sebagian besar warga mengambil berkompan-kompan dan berember-ember. Namun, tidak bagi Maryati (75). Ia hanya mengambil air bersih sebanyak dua ember saja lantaran tidak memiliki tampungan air di dalam rumahnya. “Ibu mah cuma gawe rong ember doang teng, lake wadahe (ibu mah cuma bawa dua ember saja, dek, enggak ada tampungannya-red),” ujar wanita yang berprofesi pencuci kain itu.
Ia mengaku tidak memiliki sumur odok-odok seperti warga lainnya. Namun, mengandalkan dari aliran
Kali Ciujung dan Cidurian saja. Sementara, kondisi saat ini, kedua aliran sungai itu tercemar. Ketika mandi dan mencuci ikut tetangganya yang memiliki sumur odok-odok.
“Kalau untuk minum dan masak saya beli galon Rp5 ribu per galon,” katanya.
Air besih dalam galon yang dibelinya itu cukup untuk masak dan minum selama lima hari. Setelah habis, dirinya kembali membeli galon di warung. Kata dia, untuk pembelian galon di lingkungan tempat tinggalnya itu tidak sulit karena setiap warung pasti menjual air bersih dari isi ulang. “Air dari Serang yang sekarang datang tidak untuk mandi dan mencuci, tapi untuk minum dan masak,” katanya.
Camat Tanara Eri Suheri mengatakan, krisis air bersih di wilayahnya itu sering terjadi setiap tahun. Selain kondisi kali yang tercemar, juga ketidakmampuan warga dalam membuat sumur bor. “Kalau sumur bor itu, supaya mendapatkan air tidak asin dan anta harus seratus meter kedalamannya,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.
Kata dia, sebanyak sembilan desa yang ada di Kecamatan Tanara sedang membutuhkan air bersih. Pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk dapat menyalurkan bantuan air bersih. “Alhamdulillah beberapa kali BPBD menyalurkan air bersih ke desa-desa yang ada di Kecamatan Tanara sehingga warga terbantu,” katanya.
Dihubungi terpisah, Koordinator Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) pada BPBD Kabupaten Serang Jhoni Ewangga mengatakan, total kecamatan yang mengalami kekeringan hingga saat ini ada 40 desa, terdiri dari 11 Kecamatan. Namun, satu kecamatan yakni Puloampel sedang dilakukan pendataan. “Kalau Puloampel hanya satu desa saja yang melaporkan,” katanya melalui sambungan telepon.
Kata dia, dari 11 kecamatan yang melaporkan krisis air bersih, sebanyak 10 kecamatan sudah mendapatkan distribusi air bersih, di antaranya Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Tanara, Kibin, Bandung, Binuang, Cikande, Carenang, Petir, dan Tunjungteja. “Namun, satu kecamatan belum, yakni Puloampel,” tandasnya. (*)











