SERANG – Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Banten bersepakat menciptakan Pemilu 2019 Aman, Damai, Sejuk dan Anti Hoax. Hal tersebut terungkap dalam acara Deklarasi dan Diskusi bertajuk ‘Pemuda Mendukung Pemilu 2019 Aman, Damai, Sejuk dan Anti Hoax’ yang dilaksanakan di Rumah Makan S’ Rizky, Kota Serang, Kamis (15/11).
Kegiatan yang digagas oleh Lembaga Studi Pembangunan Masyarakat (LSPM) itu dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Hadir sebagai pembicara Dekan Fisip Unsera Dr. Abdul Malik, Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JADI) Syaiful Bahri.
Ketua LSPM Ahmad Zainuri mengatakan, melihat perkembangan politik saat ini. Generasi muda dituntut bersatu padu dalam menciptakan suasana Pemilu yang damai, aman, sejuk dan anti hoax. “Generasi muda, jangan ikut-ikutan menyebarkan informasi yang mengarah terjadi perpecahan,” ujarnya.
Kata dia, setiap orang memiliki hak dalam menentukan pilihannya dalam setiap kontestasi termasuk di Pemilu 2019. Tapi, pemuda sebagai aset masa depan bangsa harus tetap bersatu padu. Jika tidak. Maka ini akan berbahaya. “Kalau pemudanya pecah, maka bangsa akan hancur,” katanya.
Ia menjelaskan, melihat panasnya kontestasi Pemilu 2019 dari masing-masing pendukung yang mengakibatkan sering terjadinya perang opini di media sosial. Dampaknya, kondisi ini berpotensi komplikasi, ditambah lagi pemilihan legislatif dilakukan secara bersamaan. “Di medsos, sering terjadi perang opini dari masing-masing kubu tim Capres atau pun tim Caleg. Ini harus diantisipasi,” terangnya.
Untuk itu, kata Zainuri bersama organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang ada di wilayah Banten khususnya Serang, Pandeglang, Kota Cilegon dan Lebak bersepakat mendukung terselenggaranya Pemilu aman, damai, sejuk dan anti hoax. “Pemuda ikut serta menjadi garda terdepan,” katanya.
Ia mengungkapkan, ada enam poin isi deklarasi pemuda. Pertama, mendukung terselenggaranya Pemilu Serentak 2019 yang Aman, Damai dan Sejuk. Kedua, mempercayai penyelenggaraan Pemilu dapat bekerja sesuai peraturan perundang – undangan yang berlaku. “Ketiga, kami menyerukan kepada peserta Pemilu dan Tim Kampanye baik Capres maupun Parpol untuk menjaga dan menciptakan kondisi politik yang sejuk dan kondusif di masyarakat sehingga senantiasa tercipta kerukunan dan kedamaian dalam NKRI,” katanya.
Sedangkan, poin keempat, pihaknya siap ikut mengawal dan berpartisipasi secara aktif pada setiap tahapan Pileg dan Pilpres agar dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku. Kelima, mendukung penegakan hukum pelanggaran Pemilu dengan mengedepankan Prinsip Musyawarah. “Terakhir, ke enam kami bersama melawan berita bohong, ujaran kebencian dan hoax,” katanya.
Sementara itu, Presidium JADI Syaiful Bahri mengatakan, dalam Pemilu 2019 pemilih usia 17-37 tahun atau disebut pemilih milenial mencapai mencapai 50 persen. Dari 50 persen itu 90 persennya aktif menggunakan media sosial. “Media sosial yang dipegang dari empat kiriman teman ada minimal satu berita yang membingungkan. Post truth atau orang menganggap benar setiap informasi yang diterima,” katanya.
Kata dia, ada empat kategori pemilih dalam pelaksanaan Pemilu yakni tradisional, rasional, skeptis dan pragmatis. Dari empat kategori itu penting dilakukan penyadaran untuk mengantisipasi beredarnya informasi hoax. “Karena dalam agama Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dan hoax bagian dari fitnah itu,” terangnya.
Dekan Unsera Dr Abdul Malik dalam pemaparannya mengatakan, saat ini kita berada dalam era kegagapan menggunakan teknologi. Bagaimana mengedukasi anak-anak muda untuk menciptakan suasana kondusif. “Sekarang ini menjelang Pemilu. Ruang politik sedang gadug-gaduhnya. Kegaduhan disebabkan oleh kampanye hitam, ujaran kebencian, berita hoax,” katanya.
Menurut pria yang akrab disapa Malik itu, seluruh elemen atau civil society harus terus berikhtiar untuk bagaimana sama-sama menangkal hoax bagaimana politik kita jauh menjadi lebih kondusif. (ADVERTORIAL/Fauzan D)










