SERANG – Air Sungai Teluk Bako di Desa Mangkubumi, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, berubah warna. Sejak dua pekan lalu, air sungai berubah warna menjadi merah muda. Perubahan air yang mengejutkan warga itu diduga karena tercemar limbah industri.
Kemarin (27/8), sejumlah aktivis lingkungan dari Kaukus Lingkungan Hidup Serang Raya dan Riung Hijau mendatangi kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang di Lopang, Kota Serang. Mereka membawa sampel air Sungai Teluk Bako untuk dilaporkan kepada DLH dan diuji laboratorium.
Ketua Riung Hijau Ahmad Baedhowi mengatakan, pihaknya mengambil dua jeriken sampel air dari Sungai Teluk Bako untuk diuji di laboratorium milik DLH Kabupaten Serang. Hasil dari uji laboratorium akan ditindaklanjuti hingga penelusuran sumbernya. “Pantauan kita di lapangan, airnya menjadi merah muda, ada bau tapi tidak begitu menyengat, kondisi itu dari hulu sampai hilir,” katanya kepada Radar Banten, Selasa (27/8).
Pria yang akrab disapa Owi itu mengungkapkan, berdasarkan hasil penelusuran sementara di lokasi, ada lima perusahaan yang berdiri di sepanjang bantaran Sungai Teluk Bako. Perusahaan tersebut di antaranya memproduksi sabun dan batako. “Kita belum bisa memastikan ini berasal dari perusahaan mana karena nanti akan diuji laboratorium dulu,” ujarnya.
Menurut Owi, Sungai Teluk Bako banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk keperluan peternakan dan pertanian. Tercemarnya sungai tersebut banyak dikeluhkan masyarakat setempat. “Mereka khawatir ternak dan pertaniannya akan mati karena selama ini mengandalkan air sungai,” ucapnya.
Dikatakan Owi, persoalan Sungai Teluk Bako sebenarnya bukan hanya pencemaran saja, tapi juga kondisi sungai tersebut tidak terawat karena banyak sampah dan terjadi penyempitan sempadan sungai. “Karena itu, kami mengajak DLH untuk sama-sama menyelesaikan persoalan tersebut,” katanya.
Menanggapi hal itu, Kepala DLH Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto mengatakan, menerima laporan tercemarnya Sungai Teluk Bako. Namun, Budi belum bisa memastikan dari mana sumber pencemaran air sungai itu.
“Kalau secara kasat mata mungkin berbahaya, tapi kita harus tahu dulu kandungannya seperti apa,” katanya.
Ia mengatakan, akan melakukan uji laboratorium sampel air yang sudah diambil dari Sungai Teluk Bako. Hasil uji laboratorium akan diketahui dua minggu ke depan. “Nanti dari hasil uji laboratorium itu akan kelihatan, apakah positif atau negatif,” ujarnya.
Ia mengaku, sudah mengecek ke lokasi setelah gambar Sungai Teluk Bako yang memerah itu viral di media sosial. “Tadi pagi (kemarin-red) teman kita juga berangkat lagi ke lokasi untuk menentukan perusahaan yang kita coba investigasi, apakah dia mengeluarkan limbah cair atau tidak,” pungkasnya.
Kasus tercemarnya sungai di Kabupaten Serang bukan cerita baru. Sebelumnya, Sungai Ciujung dan Sungai Cidurian juga kerap tercemar limbah industri. Air di kedua sungai itu pun tidak lagi jernih melainkan berubah menjadi kehitam-hitaman dan mengeluarkan bau. (jek/alt/ira)







