Kisah rumah tangga Yadi (35), nama samaran, cukup menggelikan. Dengan keterbatasan ekonomi, setiap hari Yadi dibuat pusing tujuh keliling oleh perilaku istrinya, sebut saja Midah (34), yang doyan belanja ke mal alias shopping. Jika tidak dituruti, sikap Midah pasti jutek dan mencampakkan suami. Ow ow ow.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Tunjungteja, pagi itu Yadi tampak rapi dengan seragam kerja dan tas ransel di punggung. Sambil menikmati sarapan nasi uduk, Yadi tidak sungkan mencurahkan isi hatinya yang kesal dengan tingkah istrinya. Mereka sudah lima tahun berumah tangga. Namun, selama itu pula Yadi mengaku terang-terangan tidak memiliki tabungan sama sekali. Semua uang hasil keringatnya habis digunakan untuk memuaskan hasrat istrinya. “Dia enggak punya pikiran nabung buat masa depan, jadi uang tuh habis terus. Istri saya tuh doyan shopping,” keluh Yadi sambil tepuk jidat.
Diceritakan Yadi, perjumpaannya dengan Midah bermula saat mereka baru selesai melaksanakan salat Zuhur di tempatnya bekerja. Keduanya sama-sama kerja di satu perusahaan. Yadi pun sambil iseng mengajak Midah mengobrol. Ajakan Yadi langsug disambut Midah yang memang termasuk wanita terbuka. Mereka pun mulai bercakap-cakap sambil menunggu selesai waktu istirahat. “Dia sih baik, enggak sombong, dan asyik diajak ngobrolnya,” kenang Yadi.
Tentu bukan itu saja alasan yadi mendekati Midah. Sisi lain yang lebih menarik dan terlihat secara kasat mata, wajah Midah cukup rupawan, bodinya aduhai, dan mempunyai kulit putih mulus. Serasilah dengan Yadi yang juga sosoknya lumayan tampan dan berpostur tubuh ideal. Dari perbincangan itu, merasa saling ada ketertarikan, komunikasi mereka semakin intens. Setiap bertemu, timbul sikap saling perhatian di antara keduanya. Mulai dari menanyakan soal makan, tidur, sampai memuji satu sama lain. Sampai akhirnya, dua bulan kemudian ketika keduanya pulang kerja bareng, Yadi nekat menyatakan perasaannya kepada Midah yang waktu itu sedang dibonceng Yadi di jok belakang motornya. “Alhamdulillah diterima dong,” aku Yadi bangga. Syukur deh.
Setahun pacaran, mereka sepakat menjalin hubungan ke arah lebih serius. Singkat cerita, keduanya menikah. Resepsi pernikahan berjalan lancar dan meriah lengkap dengan hiburan musik dangdut semalam suntuk. Hari itu menjadi kenangan indah dan bersejarah bagi kedua mempelai. Mengawali rumah tangga, mereka tinggal di rumah keluarga Midah.
Kebahagiaan menyertai pasangan yang sedang dimabuk asmara saat masih mudanya itu. Bahkan, Yadi mengaku ingin merasakan kembali masa-masa indah itu. “Malam pertama pengantin baru itu benar-benar wueeenak,” kenangnya. Enak gimana nih? “Ya gitu deh,” kelitnya sambil cengengesan.
Setahun kemudian, keduanya dikaruniai anak yang membuat hubungan semakin harmonis. Midah pun memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus anak. “Ya saya juga mikirnya lebih baik dia di rumah. Biar kalau lagi kepengen, dia selalu siap setiap saat,” guyonnya. Eaaaa nakal.
Soalnya, pengakuan Yadi, saat Midah masih bekerja selalu menolak diajak berhubungan dengan alasan lelah dan tak bergairah. “Ya begitulah, Kang. Namanya juga kerja, pasti dia kecapean,” jelas Yadi mencoba memahami istri.
Seiring berjalannya waktu, di saat kebutuhan ekonomi semakin mencekik, sikap Midah justru berubah, jadi sosialita, doyan belanja ke mal meski terkadang yang dibeli tidak terlalu penting dan bukan kebutuhan mendesak untuk rumah tangga. Soal kekurangan Yadi, Midah tidak mau tahu. “Kayaknya karena keseringan diajak jalan ke mal, dia mulai minta dibelikan macam-macam,” kesalnya. Sabar kang, menyenangkan istri tuh ibadah.
Kondisi itu membuat Yadi pusing
tujuh keliling karena kesulitan menabung uang hasil kerjanya untuk membeli
rumah. Terlebih, saat itu Yadi sedang terlilit utang kepada saudaranya untuk
biaya rumah sakit ibunya yang mulai sakit-sakitan. Keseharian yang dijalanin
Yadi mulai penuh tekanan. “Orang-orang sih lihatnya saya hidup bahagia punya
kerjaan. Padahal pusing. Ini lagi istri mintanya macam-macam, sudah dibelikan
tas, baju, dia minta lagi yang lain, kan pusing,” tukasnya.
Stres memikirkan tekanan itu,
Yadi mulai tak bisa mengendalikan emosi dan mulai memarahi istri habis-habisan.
Dalam situasi seperti itu, Midah bukannya takut dan menurut, malah melawan.
Keributan di antara keduanya pun tak terelakkan bak perang dunia kedua. “Pusing
juga ngejalanin rumah tangga kayak gini,” sesalnya.
Pasca kejadian itu, keesokan harinya Yadi memilih pulang ke rumah dan fokus mengurus ibunya. Seminggu kemudian, Midah sadar dan meminta maaf. Di depan ibu mertua, Midah mencium tangan Yadi dan kehidupan keduanya pun kembali harmonis. Sayangnya, tiga hari peristiwa itu ibunda Yadi meninggal dunia. “Mungkin ibu saya cuma pengen lihat rumah tangga anaknya bahagia,” ucapnya. Ya ampun, sabar ya Kang. Semoga ibunya diberikan tempat terbaik di surga. Amin. (mg06/zai/ags)











