CILEGON – Sudah berdiri hampir satu tahun, vertical garden atau taman vertikal di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Cibeber, hingga kini dinilai belum sesuai harapan. Bahkan sejumlah pihak pun menganggap proyek yang menghabiskan anggaran hingga Rp800 juta itu mubazir.
Vertikal garden dibangun Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Cilegon pada akhir 2018. Taman tersebut terbuat dari material besi yang disusun melingkar dengan bagian atas menyerupai daun.
Kemudian kerangka besi diselimuti oleh material menyerupai kain yang telah dilubangi seukuran dengan pot berukuran kecil. Di lubang-lubang kain tersebutlah berbagai macam pohon hias ditanam.
Berdasarkan informasi dari Dinas Perkim Kota Cilegon, vertikal garden dibangun sebagai pengganti pepohonan yang ditebang saat pembangunan trotoar. Dengan metode tersebut, pemerintah berupaya memberikan kenyamanan kepada pejalan kaki dan membuat lingkungan sekitar terlihat tetap asri.
Namun, hingga hampir satu tahun, taman tersebut malah gersang. Banyak pepohonan terlihat mati dan layu, bahkan sejumlah media vertikal garden pun terlihat miring.
Salah satu warga, Suryadi menilai kondisi vertikal garden tidak enak dipandang. Meski pemerintah menyebutnya sebagai taman, tetapi ia menilai proyek tersebut tak terlihat seperti taman. “Lihat saja itu, tanamannya kaya rumput, kecil-kecil, terus ada yang mati juga,” tuturnya usai mengunjungi salah satu bengkel di sepanjang jalan tersebut.
Nuraisah pun menuturkan hal yang sama dengan Suryadi. Selain pohon yang tidak terlihat indah, kondisi media vertikal gardennya pun membuat warga tidak nyaman dan risi. “Ada yang miring, nih ini juga tuh kan agak miring atasnya,” ujarnya.
Baik Suryadi maupun Nuraisah berharap pemerintah tidak main-main dalam membangun fasilitas, karena berkaitan dengan uang rakyat. “Daripada mubazir begini Pak, mending kan buat yang lain,” ujar Suryadi.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon Erik Airlangga juga menyesalkan kurang manfaatnya vertikal garden. Dia menilai, Dinas Perkim salah konsep sejak awal. “Kalau jadinya begitu mendingan ditanami pohon saja sekalian biar jalannya adem,” kata dia.
Dalam waktu dekat, Erik berjanji akan menyampaikan masalah tersebut ke Dinas Perkim. Dia berharap dinas tidak asal membuat program kerja sehingga terkesan mubazir. “Nanti saat rapat dengar pendapat kita sampaikan. Kita tanyain juga,” ujar politikus Golkar itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Kota Cilegon Aziz Setia Ade Putra tidak menampik jika kondisi vertikal garden saat ini belum dirasa maksimal. Menurutnya, vertikal garden merupakan metode baru yang digunakannya untuk mempercantik wajah kota. Oleh karena itu, sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan evaluasi terhadap metode tersebut.
Beberapa hal yang dievaluasi pihaknya adalah jenis tanaman dan media yang digunakan. “Kita lagi evaluasi dulu, tapi tetap kita lakukan pemeliharan dan penggantian tanaman yang sempat mati karena kemarau,” paparnya.
Dijelaskan Aziz, hingga beberapa waktu ke depan, evaluasi akan terus dilakukan, jika kondisi vertikal garden masih seperti saat ini, pihaknya akan mengganti jenis tanaman yang mudah tumbuh dan dipelihara, misalnya tanaman merambat. (bam-ibm/ags)









