SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dia, noni Belanda. Ke manapun aku pergi, dia mengikutiku. Ada lah 10 tahun lebih.
Aku baru mengetahuinya ketika bertemu dengan Bahry Samsiadi. Kami berteman sejak lama. Namun, jarang bertemu.
“Gan (menyebut namaku, Ganda Irawan) leher kamu sering jemper (pegal-red) ya,” tanya Bahry saat menjabat tanganku.
“Dari mana Sam tahu,” batinku. Aku memanggil Bahry Samsiadi dengan Sam. Lebih enak aja.
Dulu, aku sering main ke rumah orangtuanya. Sam pun sama, sering menyambangi rumah orangtuaku. Bersama teman lainnya, kami sering nongkrong. Cuma sekadar minum kopi dan ngobrol.
Namun, sejak Sam sibuk bekerja, kami jarang lagi kumpul. Sam bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota kami, Serang. Seingatku, tujuh tahun lalu.
Aku tidak menggubris pertanyaan Sam. Aku mengalihkan obrolan dengan menanyakan kabar orangtua Sam.
” Alhamdulillah baik. Orangtuaku, dua-duanya sehat. Alhamdulillah ,” jawab Sam.
“Gan, ini serius. Leher kamu sering jemper ?” tanya Sam lagi.










