Oleh: Muhammad Haidar Ali
Entah ini keputusan yang tepat atau tidak. Kabin sebelah tempat dudukku telah berpijar demikian hebat, nyaris meledak dan apinya bisa melelehkan kulitku seketika.
Di sisi lain, dinding pesawat sebelahku telah terbuka dan mulai menghisap orang-orang keluar. Pada saat itulah aku harus memilih. Tetap berada dalam pesawat dan terbakar habis oleh api, atau keluar dari pesawat melalui lubang dinding pesawat itu.
Oksigen yang keluar dari masker oksigen tidak bisa membuatku berpikir dengan tenang lagi jernih.
Melihat kobaran api yang sanggup melelehkan orang-orang di sekitarku beserta kursi-kursinya, bau vinyl dan polyester terbakar bercampur jadi satu dengan bau hangus daging manusia, sudah cukup membuatku begidik dan memilih melompat keluar pesawat dari pada dilahap api.
Paling tidak, alternatif ini masih bisa memperpanjang nafasku dan memberikan tempo berpikir apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
Apa masih ada kemungkinan bagiku untuk selamat ketika melompat dari ketinggian sekitar 30.000 kaki atau setara dengan 9.144 meter? Paling tidak aku mempunyai waktu sekitar 4-5 menit sebelum badanku terhempas ke permukaan bumi, tergantung bagaimana aku bisa memanfaatkan hambatan angin dengan tubuhku.
Menghitung seperti ini tentu saja mudah bagiku, ini hanya hitung-hitungan dengan menggunakan rumus dasar fisika yang dipelajari di sekolah menengah. Tapi dalam kenyataan, banyak faktor yang membuat hidup tak sesuai dengan konsep. Segala kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk keajaiban atau bencana terburuk.
Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caraku agar bisa selamat? Ini adalah pertama kalinya aku jatuh dari ketinggian ekstrim, tidak bisa disamakan dengan pengalaman jatuh dari sepeda motor dan jatuh dari pohon mangga.











