WAKIL Menteri Agama (Wamendag) RI Zainut Tauhid Sa’adi berharap mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menjadi garda terdepan dalam mengimplementasikan Islam Wasthiyah atau menjalankan agama secara moderat.
Hal itu disampaikan Zainut Tauhid saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Mahasantri Angkatan IV Ma’had Al Jami’ah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di aula rektorat kampus UIN Ciceri, Kota Serang, Selasa (26/7). Turut hadir Rektor UIN Banten Wawan Wahyudin, Rektor Universitas Serang Raya Hamdan, Rektor Universitas Banten Jaya M Syadeli Hanafi, dan undangan lainnya.
Wisuda Mahasantri Ma’had Al Jami’ah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten diikuti oleh 40 mahasiswa. Pada prosesi wisuda, mahasantri mengenakan sarung dan peci hitam dikalungi sorban oleh Rektor.
Zainut Tauhid mengungkapkan, moderasi beragama di Indonesia menjadi rujukan masyarakat internasional. Indonesia telah terbukti memberikan warna Islam. Islam yang tawassuth.
“Beberapa tahun lalu, yang saya ingat akhir tahun 2018, ulama Afganistan datang ke Indonesia untuk belajar Islam wasathiyah. Di sana terjadi pertikaian antar kelompok. Di Indonesia dengan beberapa agama, berbagai organisasi, jumlah etnis yang banyak, berjalan rukun,” ungkapnya.
Kerena itu, lanjut dia, mahasantri atau mahasiswa yang ikut belajar di ma’had al jami’ah punya peranan dana memperkuat pemahaman keislaman.
“Ma’had al jami’ah merupakan bentuk integrasi antara pendidikan yang modern seperti universitas dengan pendidikan tradisional atau mahasantri yang tidak hanya memahami pemahaman keagamaan secara umum, juga lebih mendalami pemahaman keagamaan yang secara khusus,” jelasnya.
Maka dari itu, pemahaman keagamaan yang secara khusus ini harus dijadikan sebagai pemahaman yang lebih lurus, dan pemahaman Islam yang wasathiyah atau moderat.
“Jangan sampai ada pemahaman yang radikal. Hal ini perlu dilakukan karena Indonesia adalah negara yang plural, berbeda-beda mazhab, begitupun organisasinya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemahaman keagamaan yang moderat memberikan toleransi terhadap perbedaan itu sepanjang perbedaan itu masih dalam wilayah perbedaan yang sifatnya diperbolehkan.
Ia juga meminta kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) agar terus mendesiminasikan pemahaman ajaran Islam yang moderat guna menolak pemahaman yang ekstrem.
“Pemahaman yang ekstrem yang berlebihan yang itu justru nanti akan menjadikan perpecahan internal umat Islam maupun juga perpecahan di antara masyarakat dan bangsa,” ungkapnya.
Rektor UIN Banten Wawan Wahyudin berharap mahasantri yang diwisuda dapat menjadi insan yang cerdas, berbudi luhur, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat. “Jadi perekat umat, jangan jadi pemecah umat,” katanya.
Ia juga memberikan pelajaran hidup yang dapat diambil dari Bill Gates pendiri Microsoft sekaligus orang terkaya di dunia. Ada tujuh poin yang dapat dipelajari, antara lain, hidup tidak terbagi dalam semester seperti kuliah. Ketika hidup sudah dimulai, hidup akan berjalan terus tanpa ada jeda, tanpa ada pembagian.
“Maka ananda harus dapat belajar mengatur waktu, agar bisa meraih target yang ingin dicapai,” terangnya.
Kemudian, dunia tidak selalu adil, maka hadapilah kenyataan. “Kadang kala kita usaha, belum berhasil. Kadang kala kita merasa pantas mendapatkan, tapi tidak mendapatkan. Prinsip saya bahagian itu sederhana, menerima apa adanya, dan diterima dengan hati yang besar,” jelasnya.
Sebagaiamana diketahui, Ma’had Al Jami’ah merupakan lembaga yang didirikan di bawah naungan UIN Banten untuk mahasiswa yang ingin berlajar dan memperdalam ilmu keislamanan.
Terdapat beberapa kelas pengajian untuk mahasantri (sebutan mahasiwa di ma’had al jami’ah). Yaitu kelas Mubtadi (bagi yang belum pernah mondok dan membutuhkan pembinaan dasar), kelas Mutawasith (pernah mondok dan membutuhkan pembinaan lanjutan). kelas Mutaqodim (lulus materi mutawasith dan fokus dalam kajian fiqih dan takhrij hadits). kelas Tahfidz 30 Juz (untuk yang ingin menghafal al-Qur’an 30 juz selama empat tahun), kelas Dirosah Khosoh (untuk mahasantri yang mendalami keilmuwan untuk ajang perlombaan), dan Pesantren Kilat Sebulan bagi mahasiswa yang ingin mendalami bidang keilmuwan tertentu pada saat liburan kuliah. *











