PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID -Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memasang 20 alat pendeteksi gempa bumi di Kabupaten Pandeglang.
Pemasangan alat pendeteksi gempa bumi dilakukan BMKG karena Kabupaten Pandeglang masuk daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan PK) Kabupaten Pandeglang Rahmat Zultika mengatakan, BMKG sudah melakukan pemasangan alat pendeteksi gempa.
“Kalau jumlah alat yang dipasang BMKG ada 12 jenis. Tersebar di 20 titik lokasi rawan bencana di Kabupaten Pandeglang,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu (18/12).
Alat yang sudah dipasang BMKG itu bukan berupa buoy atau Tsunami Early Warning System. Sebuah alat terapung yang bisa mendeteksi gelombang tinggi air laut yang disebabkan oleh gempa bumi bawah laut.
“Jadi bukan alat buoy yang terpasang di laut yang bertugas untuk mengawasi dan mencatat perubahan tingkat pada air laut atau bencana tsunami. Tapi ke-12 jenis alat itu untuk mendeteksi kegempaan dan radar tsunami yang di pasang di darat bukan terapung di laut” katanya.
Alat kegempaan yang sudah dipasang BMKG berupa alat seismik sensor. Sebuah alat berfungsi untuk menangkap getaran atau gelombang yang terdeteksi di lapisan bawah permukaan.
“Alat seismik ini di pasang di Kecamatan Pulosari. Lalu alat WRS New Generation di pasang di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung dan pusat pemerintahan Pandeglang,” katanya.
Alat Warning Receiver System (WRS) New Generation, ialah merupakan sebuah peralatan penerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami berupa smart display. Di mana menjamin stakeholder menerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami untuk mengambil langkah penting selanjutnya.
“Lalu alat seismograf atau sebuah alat deteksi gempa bumi yang digunakan untuk mencatat gelombang seismik yang disebabkan oleh gempa bumi, ledakan, atau fenomena alam yang mengguncang Bumi. Alat itu pasang di Kecamatan Sumur dan kecamatan Cigeulis,” katanya.
Selain itu, BMKG juga memasang alat Intensity Meter P-Alert. Merupakan alat sistem instrumen yang digunakan untuk menghitung percepatan tanah pada suatu tempat.
“Yang sekarang sudah terpasang di 7 titik lokasi atau kecamatan meliputi Kecamatan Cigeulis, Cimanggu, Sumur, Cikeusik, Angsana, Carita dan Mandalawangi,” katanya.
Selanjutnya alat accelerometer rais. yaitu suatu alat sensor yang dipakai untuk mengukur kecepatan suatu benda atau objek.
” Yang dipasang di Kecamatan Panimbang, Sumur dan Cikeusik. Lalu sudah dipasang juga alat Earthquake EWS atau alat sistem peringatan gempa di Sobang, Labuan, Cikeusik, Cimanggu,” katanya.
Selanjutnya, diungkapkan Zultika, BMKG juga memasang alat radar tsunami di di teluk Labuan. Kemudian alat Sirine (ews) Tsunami di Teluk Labuan, dan Sidamukti Pagelaran.
“Lalu memasang alat WRS dan EWS (sebuah alat peringatan dini gempa dan tsunami) di TNI AL Labuan dan KEK Tanjung Lesung. Dan memasang alat Repeater (penguat sinyal) di Kecamatan Carita dan Kecamatan Pulosari,” katanya.
Salah satu nelayan dan juga selaku Ketua RT 03 RW 04 Kampung Ketapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Ruyadinata berharap, di perairan Sumur dipasang alat pendeteksi tsunami berupa buoy.
“Buoy sangat penting untuk mempercepat penyampaian informasi akan terjadi bahaya tsunami. Contohnya saja tahun 2018 lalu, terjadi tsunami senyap tanpa ada yang mengetahui karena memang tidak didahului terjadi gempa bumi,” katanya.
Oleh karena itu, Ia berharap pemerintah dapat segera memasang alat peringatan dini tsunami berupa buoy. Sementara ini alat tersebut belum terpasang di perairan Sumur.
“Alat peringatan dini itu penting dan semoga saja secepatnya dapat terpasang. Apalagi saat ini wilayah Sumur khususnya menjadi salah satu titik pusat sering terjadi gempa bumi,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor : Aas Arbi











