SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya pada Jurusan Ilmu Komunisi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Prof. Dr. H. Ahmad Sihabudin menyebut, jika saat ini warga adat Baduy tengah mengalami evolusi modern.
Evolusi itu ditandai dengan mulai masuknya teknologi modern ke lingkungan suku adat yang berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak itu.
Mereka yang terkenal dengan ketaatan terhadap tradisi adat dan budaya yang telah mereka jaga secara turun temurun itu kini telah mulai melek terhadap teknologi modern. Contohnya yakni penggunaan smartphone oleh warga adat.
“Kalau tantangan buat semua masyarakat rasanya ada, ya itu terutama di era digital ini. Kalau anda perhatikan di Kampung Kadu Ketuk yang jadi ibukota Baduy itu terlihat banyak warga Baduy yang megang smartphone segala macam ya,” kata Prof. Dr. H. Ahmad Sihabudin saat ditemui Radar Banten di Gedung FISIP Untirta, Serang, Jumat 28 April 2023.
Prof. Sihab, sapaan akrabnya mengatakan, warga Baduy menggunakan smartphone untuk berbagai kebutuhan sosial mereka seperti memperoleh informasi dan bahkan berjualan secara online.
Menurutnya, hal itu merupakan suatu hal yang positif. Sebab, masyarakat Baduy juga bisa mengetahui informasi terbaru soal kondisi di luar wilayah Baduy salah satunya harga bahan baku kain yang mereka gunakan untuk membuat kain tenun yang jadi salah satu cendramata khas Baduy.
“Menurut saya sih, teknologi itu bukan sebuah ancaman, artinya tinggal bagaimana kita juga menjaga atau memberikan literasi kepada masyarakat itu. Kalau ancaman mah, jangan orang Baduy, di mahasiswa dan diri saya juga kan kadang kita yang merasa terdidik juga dengan provokasi di media sosial kadang kita mungkin emosi juga,” katanya.
Ketika disinggung banyak warga Baduy yang aktif di media sosial baik jadi selegram ataupun Youtuber, penulis buku Saatnya Baduy Bicara ini percaya Baduy akan tetap menjaga budayanya agar tidak hilang ditelan zaman.
“Mungkin pada saatnya akan ada pergeseran tapi mungkin ini evolusi ya, mereka masih taat kepada adat. Dan pada waktu-waktu tertentu kan suka ada patroli atau razia dari para punggawa di sana. Ya ini sebuah keniscayaan, enggak mungkin tidak ada perubahan, pasti ada perubahan. Yang awalnya tidak mengenal obat-obatan modern, cara memasarkan produk jadi tau. Ini kan jadi sebuah evolusi, ” ucapnya.
Tinggal saat ini, kata Prof. Sihab, bagaimana caranya menjaga kebudayaan yang ada dan menyesuaikan kebutuhan dari warga Baduynya sendiri.
“Jadi jangan ada intervensi yang berlebih kepada mereka, seperti mengganti tanggal Seba Baduy dan lain-lainnya, ” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











