PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Arus lalu lintas di jalur Pandeglang-Labuan, tepatnya di Batubantar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, macet pada akhir pekan menjelang Ramadan 2024.
Kemacetan di jalur Pandeglang-Labuan karena ada peningkatan wisatawan pada akhir pekan ini.
Berdasarkan informasi diterima RADARBANTEN.CO.ID, kemacetan di ruas jalan tersebut menyebabkan terjadinya antrean kendaraan sepanjang dua kilometer.
Menurut Kasatlantas Polres Pandeglang, AKP (Ajun Komisaris Polisi) Made Hendra Kusumanata, arus lalu lintas memang agak padat.
“Ditambah kondisi cuaca hujan. Untuk ruas Jalan Mengger-Cipacung terjadi kepadatan namun masih lancar,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu, 3 Maret 2024.
Kepadatan kendaraan terjadi dikarenakan adanya arus balik wisata religi dari arah Labuan menuju wilayah perkotaan Pandeglang.
“Kemudian untuk jalur Pandeglang-Lebak arus lalin landai,” katanya.
Selanjutnya, untuk jalur arah Pandeglang-Serang arus lalin padat lancar.
“Arus balik wisata menuju pintu Tol Serang Timur,” katanya.
Kabid Pemasaran pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Siti Septiana, mengatakan, kemacetan terjadi karena ada tradisi sebelum Ramadan. Yakni, ziarah.
“Biasanya 15 hari sebelum Ramadan tempat-tempat wisata religi di Pandeglang penuh kunjungan. Apalagi puncaknya dari bulan Nisfu Syaban ya,” katanya.
Peningkatan kunjungan terjadi dapat terlihat dari jumlah bus pariwisata.
“Banyak bus-bus peziarah menuju wisata religi di Pandeglang. Para peziarah umumnya datang dari Jabodetabek bahkan dari Jawa Tengah juga ada,” katanya.
Lebih lanjut, Siti mengatakan, beberapa hari ini Masjid Agung Ar Rahman juga menjadi tempat peziarah untuk melaksanakan shalat sekaligus menjadi titik istirahat mereka.
“Bahkan banyak juga yang berfoto di sana. Kurang lengkap rasanya tidak berswafoto di sana,” katanya.
Objek wisata religi yang penuh kunjungan wisatawan itu dimulai dari makam Abuya Dimyati, Syekh Asnawi, Syekh Mansur, Abuya Busthomi, Syekh Abdul Jabar, dan Batu Quran.
“Dan tempat wisata religi lain-lain,” katanya. (*)
Editor: Agus Priwandono











