SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Warga Kampung Kedaleman, Desa Sukamaju, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang mengeluhkan adanya pencemaran diduga limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang terjadi di lingkungan mereka.
Cemaran limbah tersebut mengakibatkan aroma bau yang sangat menyengat sehingga membuat lingkungan tak nyaman. Tak hanya itu pencemaran juga menyebabkan ikan, tanaman dan ayam milik warga mati.
Pantauan di lokasi pada Kamis 2 November 2024 terlihat di sebuah lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik warga Sukadalem yang telah terendam olah cairan berwarna hitam pekat. Terpantau pula ada banyak buih-buih busa yang mengambang.
Di lahan TPU yang cekung dan sudah dipenuhi oleh cairan hitam tersebut, terlihat ada banyak drum bekas berwarna biru yang tenggelam di air. Bau menyengat pun tercium dari area genangan air tersebut. Bahkan menyebabkan tanaman-tanaman yang ada di TPU mati dan mengering.
Dampak negatif dari adanya cairan yang diduga merupakan limbah B3 tersebut juga dirasakan langsung oleh warga, salah satunya ialah rumah Nenek Agus Maqsum yang rumahnya tepat berada di belakang TPU. Air hitam tersebut meresap hingga ke kolam ikan yang berada di rumah neneknya. Bahkan mengakibatkan ikan-kian yang dipelihara tersebut mati.
Di pekarangan rumah milik nenek Agus terlihat ada sebuah kolam ikan besar. Namun kondisi airnya sangat memperihatinkan karena berwarna hitam dan dipenuhi oleh buih. Selain itu, air juga mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Bahkan ketika hujan turun, air dari kolam akan meluap menggenangi halaman rumah milik neneknya.
Agus Maqsum mengaku, baru mengetahui adanya tumpahan limbah sekitar satu minggu yang lalu saat terjadi hujan deras. Saat itu, air kolam ikan yang ada di belakang rumahnya tiba-tiba menghitam disertai dengan beberapa ikannya yang mati.
“Awal mulanya ikan kita yang ada di dalam rumah pada mati. Lalu airnya hitam pekat, setelah besoknya ini berubah jadi berbusa,” ujarnya.
Setelah ditelusuri, ternyata sumber pencemaran limbah tepat berada di belakang rumahnya. Ada air hitam yang menggenang dan menenggelamkan TPU milik warga.
“Di sana ada semacam limbah kimia diduga beracun di tumpahkan di sini (TPU) dua bulan lalu, efeknya baru sekarang ketika musim hujan. Bahkan mendekati rumah dan sumber air kita, waktu itu kita laporan lah ke kelurahan, tapi belum ada respon,” ujarnya.
Sebelumnya, limbah-limbah tersebut tersimpan rapih dalam drum biru berukuran besar dan ditempatkan di lahan milik salah seorang warga. Jumlahnya bahkan ada ratusan tong. Namun tiga bulan lalu, seluruh isi dari drum justru ditumpahkan ke lahan TPU dan drum nya dibawa oleh warga.
“Udah bertahun-tahun dalam bentuk drum tersusun rapih, untuk penumpahan itu dua bulan lalu, dan warga tidak tahu efeknya karna saat itu musim panas. Kita juga tidak tahu sumbernya dari mana,” ujarnya.
Ia mengatakan, ada banyak dampak yang dirasakan oleh warga yang tinggal di Kampung Kedaleman, mulai dari bau menyengat, banyak tanaman mati, ikan dan ayam milik warga mati.
Selain itu, ia juga khawatir karena air hitam tersebut sampai saat ini masih ada dan mengalir ke drainase yang mengalir ke pemukiman serta ke sawah milik warga.
“Kalau untuk sekarang dampak yang paling besar rumah nenek saya dan masuk ke lingkungan dan sawah milik warga,” ujarnya.
Ia berharap, agar permasalahan tersebut dapat segera di tindaklanjuti oleh pemerintah ataupun pihak terkait, terutama persoalan pencemaran yang terjadi bisa segera ditindaklanjuti. Ia pun menginginkan agar kolam dan lingkungan yang tercemar oleh limbah bisa segera dinormalisasi.
“Kami khawatir kalau ini terus dibiarkan justru malah nanti efeknya semakin parah. Kita ga tau ada kandungan zat berbahaya apa di air tersebut, kita takut zat itu meresap di tanah hingga nantinya mencemari juga sumber air kami,” pungkasnya.
Warga lainnya, Madwawi mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana tong tersebut berada di lokasi tersebut. Sebelumnya ada ratusan tong yang tersusun rapih di tanah milik warga.
“Ditumpahkan sebelum musim hujan, ada banyak ratusan drum. Yang punya lahan yang menumpahkan. Dampaknya banyaknya bau, banyak nyamuk, sama banyak pohon yang mati,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











