TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia akan memperingati Hari Kartini.
Tanggal ini dipilih sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Raden Ajeng (RA) Kartini.
Tokoh emansipasi wanita Indonesia yang dikenal dengan semangatnya dalam memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan pada masa penjajahan itu sangat penting dan berimbas hingga saat ini.
Penetapan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini ini tidak asal dibuat. Sebab, tanggal tersebut merupakan hari kelahiran RA Kartini. Tepat 146 tahun lalu, pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.
Dahulu, meskipun hidup dalam keterbatasan sistem feodal dan budaya patriarki saat itu, RA Kartini sangat dikenal sebagai sosok yang cerdas karena berpikirannya yang maju.
Dari surat-suratnya yang terkenal dan dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, RA Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan, kebebasan berpikir, dan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tak heran jika setiap 21 April seperti hari ini, berbagai lembaga pendidikan, instansi pemerintah, hingga komunitas masyarakat rutin menyelenggarakan peringatan Hari Kartini. Mulai dari lomba busana adat, pidato tentang emansipasi, hingga kegiatan sosial yang mengangkat peran perempuan yang terjadi dari tahun ke tahun.
Semua itu dilakukan untuk mengenang semangat juang RA Kartini dan menginspirasi generasi muda, khususnya perempuan, supaya terus berkarya dan tidak ragu mengambil peran di berbagai bidang kehidupan sehari-hari.
Meski sudah lebih dari satu abad berlalu sejak masa hidupnya, nilai-nilai perjuangan RA Kartini masih sangat relevan hingga hari ini.
Sebab, di tengah perkembangan zaman dan tantangan modern, semangat RA Kartini menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, bekerja, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Nah, jika masih ada yang bertanya hari Kartini tanggal berapa? Jawabannya adalah 21 April, seperti hari ini.
Sebuah hari penuh makna untuk mengenang tokoh perempuan yang sangat luar biasa.
Editor: Agus Priwandono











