Oleh: Cecep Abdul Hakim, Akademisi Universitas Bina Bangsa
SETIAP 10 Agustus, Kota Serang merayakan perjalanan panjangnya. Namun, apakah perayaan ini benar-benar mencerminkan perkembangan yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat?
Dengan visi “Menjadikan Kota Serang Madani yang Maju Kotanya, Bahagia, dan Sejahtera Warganya”, Wali Kota Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia mengusung cita-cita besar untuk membawa Serang ke arah yang lebih baik. Akan tetapi, tantangan pemerataan pembangunan di kota yang terdiri dari 6 kecamatan dan 67 kelurahan ini masih sangat besar.
Sebagai ibu kota Provinsi Banten, Serang seharusnya menjadi teladan bagi daerah lain. Namun, kesenjangan antara pembangunan pesat di pusat kota dan ketertinggalan wilayah pinggiran seperti Cipocok Jaya, Walantaka, dan Kasemen kian mencolok. Program-program unggulan pemerintah kota perlu memberi perhatian lebih besar pada wilayah yang selama ini terabaikan.
Visi yang Ambisius, Tantangan yang Belum Terselesaikan
Visi Wali Kota Serang untuk mewujudkan “Kota Madani yang Maju, Bahagia, dan Sejahtera Warganya” terdengar mulia. Sayangnya, pembangunan yang belum merata dan ketidaksetaraan akses layanan publik menjadi hambatan utama. Meski ada kemajuan di pusat kota, wilayah seperti Cipocok Jaya, Kasemen, dan Walantaka masih sulit mendapatkan infrastruktur dasar, pendidikan berkualitas, dan layanan kesehatan memadai. Ketimpangan ini harus menjadi fokus utama agar visi “Kota Madani” benar-benar terwujud.
Mengapa Pemerataan Pembangunan Harus Menjadi Prioritas?
Ketimpangan di Kota Serang menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan tidak bisa ditunda lagi. Kecamatan pinggiran masih menghadapi jalan rusak, drainase buruk, dan minimnya transportasi umum.
Selain itu, ketidakmerataan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan semakin memperlebar jurang sosial antara pusat kota dan daerah pinggiran. Program-program unggulan pemerintah perlu dirancang lebih fokus dan terukur untuk menjawab persoalan ini.
13 Program Unggulan: Dari Serang Makmur hingga Serang Bagus
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Pemerintah Kota Serang meluncurkan 13 program unggulan: Serang Makmur, Serang Cerdas, Serang Preneur, Serang Sehat, Serang Mengaji, Serang Kreatif Produktif, Serang Bebas Banjir, Serang Menyala, Serang Hijau, Serang Digital, Serang Bebas Pungli, Serang Bersih, dan Serang Bagus. Program ini mencakup sektor ekonomi, pendidikan, hingga pengelolaan infrastruktur. Namun, efektivitasnya dalam mengatasi masalah nyata masih perlu dibuktikan.
Serang Makmur: Kesejahteraan yang Belum Merata
Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan UMKM dan penciptaan lapangan kerja. Namun, banyak pelaku UMKM di wilayah pinggiran kesulitan mengakses pasar dan pendanaan. Tanpa dukungan tepat, dampaknya akan terbatas.
Serang Cerdas: Pendidikan yang Setara
Serang Cerdas berfokus meningkatkan kualitas pendidikan di semua jenjang. Tetapi, fasilitas pendidikan di Kasemen dan Curug masih minim, dan akses pendidikan tinggi di wilayah ini sangat terbatas.
Serang Sehat: Akses Kesehatan yang Tidak Merata
Program ini dirancang untuk memperluas akses layanan kesehatan. Namun, fasilitas di Kasemen dan Walantaka masih jauh dari memadai. Banyak puskesmas kekurangan peralatan, dan warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan pelayanan dasar.
Rekomendasi: Fokus pada Daerah Pinggiran
Untuk mewujudkan Kota Serang Madani, pemerintah perlu memprioritaskan pemerataan pembangunan. Kemajuan pesat di pusat kota harus diimbangi dengan perhatian serius terhadap daerah pinggiran, khususnya dalam penyediaan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta juga sangat penting agar program berjalan efektif. Anggaran dan bantuan harus benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan. Tanpa pemerataan nyata, visi Kota Serang Madani akan tetap menjadi sekadar wacana.
Menuju Kota Serang yang Sejahtera dan Berkelanjutan
Pemerataan pembangunan harus menjadi prioritas jika Kota Serang ingin benar-benar menjadi Kota Madani. Semua warga, baik di pusat kota maupun pinggiran, berhak merasakan manfaat pembangunan yang sama. Pemerintah harus bergerak cepat dan tegas agar 13 program unggulan dapat benar-benar meningkatkan kualitas hidup seluruh warga—tanpa ada yang tertinggal.

Cecep Abdul Hakim, Akademisi Universitas Bina Bangsa
Editor: Aas Arbi











